Rahasia Kuliner – Bubur ayam KFC

JAKARTA, CANDABISNIS — Ketika saya masih SD – didepan rumah saya setiap pagi lewat tukang roti, tukang kue basah dan tukang bubur. Ini adalah 3 pilihan buat makan pagi setiap hari sebelum berangkat sekolah. Namun kemudian perlahan – perlahan satu demi satu menghilang karena perubahan jaman. Kekuatan dan pengaruh mie instant memang sangat luar biasa.

Sekarang kalau pagi hari dan perut keroncongan, saya memilah-milah opsi untuk sarapan pagi. Dan salah satu favorit saya adalah bubur. Ini adalah “comfort food” buat saya. Kalau kita sakit dan tidak enak badan, bubur juga jadi pilihan utama. Rasanya sangat nyaman dan hangat di perut. Di daerah dingin seperti Puncak dan Cipanas, kita sering sekali menjumpai tukang bubur. Mereka menjadi santapan dan kuliner prima favorit orang – orang di daerah itu. Porsinya juga besar dengn aneka toping yang lebih rumit dan mewah.

Konon kabarnya sejarah bubur sangatlah tua. Bermula 3.000 tahun yang lalu di Tiongkok dijaman dinasti Zhou. Saat itu bubur dipakai secara politik agar tidak semua orang kelaparan karena kurangnya beras untuk membuat nasi yang mencukupi seluruh rakyat. Kemudian para tabib dalam pengobatan tradisional Tiongkok mulai mengadopsi bubur sebagian bagian dari pengobatan.

Akhirnya bubur semakin terkenal. Ada 3 jenis bubur berdasarkan kekentalannya. Mulai dari yang sangat cair sampai yang sangat kental. Cara makannya juga sangat bervariasi mulai dari berbagai topping dan jenis-jenis makanan pedamping. Mulai dari cakwe hingga telor asin.

Selama 3.000 tahun bubur kemudian menyebar ke seluruh Asia, dari Vietnam, Indonesia, Thailand hingga Jepang. Lalu menjadi kuliner yang sangat populer hingga kini. Di Jakarta Selatan – dekat saya bermukim, bubur legendaris yang jadi andalan adalah bubur ayam di restorean Sinar Mandala. Sangat laris terutama dibeli para konsumen yang sedang sakit dan tidak enak badan.

Tapi untuk sarapan di pagi hari, kalau kangen bubur ayam, tidak banyak pilihan. Hanya ada bubur ayam KFC. Mulanya saya juga rada meremehkan bubur ayam yang satu ini. Sampai suatu hari karena perut saya berontak sejak malam hari, maka terpaksa saya mencoba juga bubur ayam KFC ini.

Diluar dugaan saya, ternyata bubur ayam KFC enak sekali. Porsinya secil tidak terlalu banyak. Tapi buburnya terasa gurih dengan kekentalan yang pas banget. Rasa ladanya membuat perut hangat. Dengan irisan ayam goreng ala KFC. Ini memang jagonya ayam. Enak dan sangat memuaskan. Kini bubur ayam KFC menjadi favorit saya kalau pagi hari saya kangen bubur ayam.

Saya jadi ingat almarhum ayah saya. Beliau juga penikmat bubur. Ketika saya kecil, ayah selalu mengajak makan bubur Tio Ciu di Mangga Besar. Pernah sekali ayah saya berkata, “Bubur boleh terlihat sangat sederhana. Tapi dari kesederhaan semangkok bubur. Kita belajar banyak. Bahwa yang sederhana seringkali memberikan kita kepuasan yang tidak bisa tersaingi. Itu kekuatannya !”

 

Dapatkan Artikel Terbaru dari Kami