Resensi Novel: The Best Laid Plans – Ketika Rencana Paling Sempurna Justru Berantakan

Dari Novel Rencana Paling Sempurna - Ketika Rencana Paling Sempurna Justru Berantakan

Penulis: Sydney Sheldon | Judul Asli: The Best Laid Plans | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama – edisi terjemahan | Tahun Terbit: 1998 | Tebal: 376 halaman

Ada orang yang membuat rencana untuk menikah. Ada yang membuat rencana membeli rumah. Ada pula yang membuat rencana menjadi presiden. Sidney Sheldon tampaknya termasuk jenis manusia yang menganggap ketiga hal itu sama-sama mudah, asalkan tokohnya tampan, cantik, cerdas, ambisius, dan punya cukup banyak musuh.

Itulah dunia dalam The Best Laid Plans, novel Sidney Sheldon yang dalam edisi Indonesia diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 1998 dengan judul Rencana Paling Sempurna. Seperti banyak novel Sheldon lainnya, buku ini mengajak pembaca masuk ke dunia orang-orang yang hidupnya jauh dari kata sederhana: politikus, pengusaha, perempuan cantik, orang-orang kaya, konspirasi, ambisi, dan tentu saja cinta yang biasanya datang pada saat yang paling tidak tepat.

Judulnya sendiri sudah merupakan sebuah sindiran. The Best Laid Plans, rencana-rencana terbaik, yang menggambarkan keyakinan manusia bahwa masa depan dapat disusun seperti agenda rapat: Senin melakukan ini, Selasa melakukan itu, beberapa tahun kemudian menjadi orang paling berkuasa. Masalahnya, kehidupan tidak pernah membaca agenda yang kita buat. Dan Sheldon tahu betul cara memanfaatkan kekacauan itu.

Novel ini berkisah tentang Oliver Russell, seorang politikus muda Amerika yang mempunyai ambisi besar untuk mencapai Gedung Putih. Russell bukan sekadar politisi yang ingin mempunyai jabatan. Ia ingin menjadi presiden Amerika Serikat. Ambisinya besar, kepercayaan dirinya tinggi, dan ia memiliki kemampuan untuk membaca situasi politik dengan sangat baik.

Dalam dunia politik, kemampuan membaca situasi adalah modal penting. Tetapi Sheldon segera mengingatkan bahwa ada modal lain yang tidak kalah penting: kemampuan memanfaatkan manusia.

Di sisi lain terdapat Leslie Stewart, perempuan cerdas, cantik, ambisius, dan mempunyai kemampuan luar biasa dalam membangun karier. Hubungan Leslie dan Oliver menjadi salah satu poros penting cerita. Mereka saling mencintai, tetapi dunia yang mereka masuki bukan dunia yang memberi hadiah kepada orang yang sekadar saling mencintai. Politik, dalam novel Sheldon, bukan tempat untuk orang yang terlalu polos.

Hubungan pribadi mulai bertabrakan dengan ambisi politik. Cinta bercampur dengan kepentingan. Pengkhianatan tidak lagi menjadi kejutan, melainkan semacam mata uang yang digunakan ketika seseorang ingin naik satu tingkat lebih tinggi dalam tangga kekuasaan.

Sheldon kemudian melakukan sesuatu yang menjadi salah satu kekuatannya: ia tidak membiarkan cerita berjalan lurus.

Pembaca dibawa berpindah dari hubungan personal ke ruang politik, dari ambisi pribadi ke permainan kekuasaan. Setiap keputusan menghasilkan konsekuensi baru. Seseorang yang tampaknya menjadi korban bisa saja ternyata sedang menunggu kesempatan untuk membalas. Tokoh yang terlihat paling kuat dapat tiba-tiba berada dalam posisi paling lemah.

Dengan kata lain, Sheldon mengajarkan satu hukum sederhana: jangan terlalu cepat percaya kepada siapa pun dalam novel ini. Bahkan kepada orang yang sedang tersenyum.

 

Seni Membuat Pembaca Terus Membalik Halaman

Kekuatan terbesar Sheldon bukanlah kedalaman filsafat politiknya. Ia bukan George Orwell dan The Best Laid Plans bukan 1984. Sheldon juga tidak bermaksud menyusun teori tentang demokrasi Amerika. Kekuatan Sheldon adalah bercerita. Ia tahu bagaimana membuat pembaca berkata: “Satu bab lagi.”

Masalahnya, satu bab itu sering berkembang menjadi lima bab. Setelah itu pembaca melihat jam dan mulai melakukan negosiasi dengan dirinya sendiri: besok Subuh masih bisa bangun, kah?

Sheldon menulis dengan gaya yang relatif sederhana dan cepat. Ia tidak terlalu sibuk memamerkan metafora atau menyusun kalimat yang membuat pembaca harus membuka kamus. Ia lebih tertarik memastikan bahwa pembaca ingin mengetahui apa yang terjadi berikutnya.

Ini adalah salah satu alasan mengapa novel-novel Sheldon sangat populer. Ia memahami bahwa sebuah cerita harus mendorong rasa penasaran. Setelah satu persoalan selesai, persoalan berikutnya muncul. Setelah pembaca mengira sudah memahami permainan, papan permainannya digeser.

Dengan teknik seperti ini, membaca The Best Laid Plans terasa seperti menonton serial thriller politik yang episode berikutnya selalu lebih penting daripada episode sebelumnya.

Bedanya, pada masa Sheldon, kita masih harus membalik halaman. Tidak ada tombol “Skip Intro“.

 

Politik Sebagai Permainan Ambisi

Yang menarik dari novel ini adalah cara Sheldon memperlihatkan politik sebagai arena tempat ambisi pribadi dan kepentingan publik sering bertabrakan.

Oliver Russell adalah contoh manusia yang percaya bahwa ia mampu mengendalikan keadaan. Ia memiliki visi tentang masa depan dan percaya bahwa dirinya layak menduduki posisi tertinggi. Tetapi semakin tinggi seseorang ingin naik, semakin banyak tangan yang harus ia lewati.

Politik membutuhkan jaringan, uang, loyalitas, citra, dan kemampuan berkompromi. Dan di situlah persoalan moral mulai muncul. Sampai batas mana seseorang boleh berkompromi demi mencapai tujuan? Apakah tujuan yang dianggap baik dapat membenarkan cara yang buruk? Dan jika seseorang memperoleh kekuasaan melalui manipulasi, apakah ia akan menggunakan kekuasaan itu dengan cara yang berbeda?

Sheldon tidak memberikan kuliah akademis mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ia memilih cara yang lebih menghibur: memperlihatkan manusia melakukan semuanya di depan mata pembaca.

Kita melihat bahwa kekuasaan tidak selalu dimulai dari ruang sidang atau gedung parlemen. Ia bisa dimulai dari kamar tidur, meja makan, ruang rapat, kantor kampanye, percakapan pribadi, bahkan dari sebuah kebohongan kecil.

Kebohongan kecil, sebagaimana diketahui umat manusia sejak Adam dan Hawa, mempunyai kecenderungan berkembang biak.

 

Leslie Stewart: Bukan Sekadar Perempuan di Balik Lelaki

Salah satu aspek menarik dari novel ini adalah karakter Leslie Stewart.

Dalam banyak thriller politik lama, perempuan sering ditempatkan sebagai pasangan, pacar, korban, atau ‘penggembira’ perjalanan sang tokoh laki-laki menuju kekuasaan. Sheldon memberi Leslie ruang yang lebih besar. Ia memiliki kecerdasan, ambisi, dan kapasitas untuk menentukan nasibnya sendiri.

Leslie bukan perempuan yang sekadar menunggu lelaki menyelesaikan persoalan. Ia mempunyai tujuan dan kemampuan untuk mengejarnya. Justru karena itu, hubungan antara Leslie dan Oliver menjadi semakin menarik. Mereka bukan hanya dua orang yang jatuh cinta, melainkan dua manusia yang memiliki ambisi dan kepentingan masing-masing.

Di sinilah Sheldon cukup cerdas: ia menjadikan hubungan personal sebagai bagian dari mesin cerita, bukan sekadar dekorasi romantis.

Cinta dalam novel ini tidak selalu menjadi penyelamat. Kadang-kadang cinta justru menjadi bahan bakar bagi dendam, ambisi, dan keputusan-keputusan yang berbahaya. Mungkin Sheldon ingin mengatakan bahwa dalam politik, bahkan, Cupid pun membutuhkan konsultan hukum.

 

Ketika Rencana Sempurna Berhadapan dengan Kenyataan

Judul novel ini akhirnya menjadi semacam lelucon besar.

Manusia menyukai rencana karena rencana memberikan ilusi kendali. Kita membuat target lima tahun, rencana karier, strategi bisnis, bahkan jadwal diet. Lalu sesuatu datang melalui panggilan telepon pada pukul dua pagi dan menghancurkan semuanya.

Dalam novel Sheldon, rencana para tokohnya jauh lebih besar daripada rencana diet. Mereka merencanakan karier politik, membangun kekuasaan, mengatur hubungan, menyusun strategi, dan memperhitungkan kemungkinan masa depan.

Namun manusia mempunyai satu kelemahan fatal. Manusia tidak pernah bisa merencanakan sesuatu kepada manusia lain dengan sempurna.

Kita dapat merencanakan tindakan kita sendiri. Kita tidak bisa memastikan bagaimana orang lain akan bereaksi. Kita dapat membeli loyalitas, tetapi tidak dapat memastikan loyalitas itu bertahan. Kita dapat membangun citra, tetapi satu skandal dapat meruntuhkannya. Dan dalam politik, satu kesalahan kadang-kadang cukup untuk menghancurkan seluruh bangunan.

Sheldon menjadikan kelemahan manusia itu sebagai mesin cerita yang penuh ketegangan..

 

Apakah Novel Ini Masih Relevan?

Dibaca lebih dari dua dekade setelah edisi Indonesianya terbit, The Best Laid Plans masih menarik karena politik yang digambarkan Sheldon ternyata tidak terlalu berubah.

Teknologi berubah. Cara berkampanye berubah. Media sosial mengubah cara politisi berbicara kepada publik. Tetapi ambisi manusia tetap sama.

Politisi masih membutuhkan popularitas. Kandidat masih membutuhkan uang. Citra masih menjadi senjata. Hubungan pribadi masih bisa menjadi sumber kekuatan sekaligus kehancuran. Dan manusia masih mempunyai kecenderungan menganggap bahwa dirinya lebih pintar daripada orang lain.

Kalau Sheldon menulis novel ini pada era TikTok, mungkin beberapa adegannya akan berlangsung di media sosial. Konspirasi politik akan muncul dalam grup WhatsApp. Skandal akan menjadi viral sebelum sarapan. Dan seorang politisi mungkin harus menjelaskan sebuah unggahan yang dibuatnya sepuluh tahun lalu ketika masih merasa dirinya lucu.

Tetapi mekanismenya tetap sama: kekuasaan membutuhkan persepsi, dan persepsi mudah dimanipulasi. Itulah yang membuat novel ini tetap relevan.

 

Bukan Novel Politik yang Dalam, tetapi Thriller yang Sangat Efektif

Sebagai karya sastra, tentu ada keterbatasan.

Karakter-karakter Sheldon terkadang terasa terlalu dramatis. Beberapa situasi terasa seperti dirancang khusus untuk mengejutkan pembaca. Ada pula kecenderungan hitam-putih dalam menggambarkan sebagian tokohnya: yang baik cenderung baik, yang licik cenderung licik.

Namun mungkin justru di situlah kita harus memahami jenis novel yang ditulis Sheldon. Ia bukan sedang menulis risalah filsafat politik. Ia sedang membuat mesin cerita. Dan mesin itu bekerja.

Sheldon tahu kapan harus memberikan informasi, kapan harus menyembunyikannya, kapan harus membuat pembaca curiga, dan kapan harus memberikan kejutan. Ia tidak membiarkan cerita kehilangan momentum terlalu lama.

Dalam ukuran thriller populer, itu prestasi yang tidak kecil.

Sebuah novel tidak selalu harus membuat kita memahami kehidupan dengan lebih dalam. Kadang-kadang novel cukup membuat kita lupa waktu selama beberapa jam. Dan The Best Laid Plans termasuk jenis novel yang melakukan tugas itu dengan sangat baik.

 

Kita Boleh Membuat Rencana, Tetapi Jangan Terlalu Percaya Diri

Pada akhirnya, The Best Laid Plans adalah cerita tentang ambisi, cinta, pengkhianatan, kekuasaan, dan ketidakpastian. Di balik intrik politiknya, Sheldon menyampaikan sesuatu yang sangat manusiawi: kita senang mengira bahwa kehidupan berada di bawah kendali kita. Padahal tidak.

Kita membuat rencana. Kita menyusun strategi. Kita menghitung risiko. Kita menganggap diri kita sudah mengantisipasi segala kemungkinan. Lalu kehidupan berkata: “Sebentar, sebentar. Tunggu dulu.”

Itulah ironi terbesar novel ini: rencana yang paling sempurna sekalipun dapat gagal karena satu variabel yang tidak pernah masuk dalam perhitungan: manusia.

Dan mungkin karena itulah  novel Sidney Sheldon begitu menyenangkan dibaca. Ia memahami bahwa manusia adalah makhluk yang aneh. Kita bisa mengirim manusia ke bulan, membangun sistem politik yang rumit, menciptakan teknologi luar biasa, dan menyusun strategi ekonomi global, tetapi sering kali gagal mengendalikan emosi sendiri.

Dalam dunia Sheldon, cinta bisa berubah menjadi dendam, kekuasaan bisa berubah menjadi jebakan, dan ambisi bisa menjadi senjata makan tuan.

Jadi, jika setelah membaca buku ini kita berniat membuat rencana hidup yang sangat rinci, sebaiknya tambahkan satu catatan kecil di bagian bawah: “Rencana dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Terutama jika manusia ikut campur.” Atau, dalam istilah pedagang:syarat dan kondisi berlaku.

Itulah mungkin pelajaran paling masuk akal dari The Best Laid Plans: buatlah rencana sebaik mungkin, tetapi jangan pernah mengira bahwa rencana itu lebih pintar daripada kehidupan.***

ARP, September 2026

 

Dapatkan Artikel Terbaru dari Kami