Resensi Buku: Breverton’s Encyclopedia of Inventions – Manusia, Penemuan, dan Kebiasaan Mengubah Dunia

Resensi Buku: Breverton’s Encyclopedia of Inventions - Manusia, Penemuan, dan Kebiasaan Mengubah Dunia

Penulis: Terry Breverton | Penerbit: Quercus Publishing Plc | Tahun Terbit: 2012 | Tebal: 384 halaman

Ada dua macam manusia di dunia ini. Pertama, manusia yang melihat sebuah batu lalu berkata: “Batu.” Kedua, manusia yang melihat batu lalu berpikir: “Kalau dipukul-pukul dengan batu lain, apakah ini bisa menjadi kapak?”

Peradaban, rupanya, dibangun oleh golongan kedua.

Itulah gagasan besar yang terasa mengalir sepanjang Breverton’s Encyclopedia of Inventions karya Terry Breverton, yang diterbitkan Quercus pada 2012. Buku setebal sekitar 384 halaman ini bukan sekadar katalog benda-benda yang pernah ditemukan manusia. Ia adalah semacam perjalanan panjang menyusuri kegelisahan manusia: dari “bagaimana caranya?” menuju “mengapa tidak kita coba?” dan, sesekali, menuju “wah, ternyata bisa!”

Quercus sendiri menggambarkan buku ini sebagai kompendium tentang lompatan teknologi, penemuan penting, dan terobosan ilmiah yang mengubah dunia. Cakupannya sangat luas: dari piramida dan sistem tata surya, operasi bedah, dinamit dan roket, hingga kartu pintar serta rekayasa genetika.

Dengan kata lain, Breverton mengajak kita melihat sejarah bukan hanya sebagai parade para raja Jawa, perang Diponegoro dan tanggal-tanggal kehadiran Belanda dan Portugis di Indonesia yang membuat kepala murid terkulai di kelas, melainkan sebagai sejarah kreativitas manusia.

Ensiklopedia yang Tidak Membosankan

Kelebihan utama buku ini adalah cara Breverton menyajikan penemuan sebagai kisah manusia. Ia tidak sekadar bertanya apa yang ditemukan, tetapi juga siapa yang menemukannya, dalam situasi apa, dan bagaimana penemuan itu kemudian mengubah kehidupan manusia.

Di sinilah buku ini menjadi menarik. Sebab sejarah penemuan ternyata jauh lebih rumit daripada yang kita pelajari di sekolah.

Kita, misalnya, terbiasa mengenal Alexander Fleming sebagai “penemu penisilin”. Namun Breverton mengingatkan bahwa sejarah penemuan tidak selalu sesederhana satu nama yang ditulis tebal di buku pelajaran. Buku ini menyoroti kontribusi Ernest Duchesne dan, terutama, Ernst Boris Chain, Howard Florey, serta para ilmuwan lain dalam perkembangan penisilin menjadi obat yang dapat digunakan secara luas. Deskripsi penerbit bahkan secara provokatif menyebut bahwa Fleming bukan satu-satunya tokoh penting dalam kisah tersebut.

Begitu pula dengan lampu listrik. Nama Thomas Edison terlalu terkenal sehingga sejarah kadang seperti malas mencari nama lain. Breverton mengangkat Joseph Swan sebagai tokoh penting dalam pengembangan lampu pijar. Edison memang memainkan peran besar dalam membuat sistem penerangan listrik menjadi praktis dan komersial, tetapi kisah lampu listrik ternyata lebih merupakan estafet daripada perlombaan seorang pelari tunggal.

Sejarah penemuan, dengan demikian, ternyata mirip masakan padang: banyak tangan bekerja, tetapi ketika sudah tersaji, kita sering hanya ingat nama restorannya.

 

Dari Piramida sampai GPS

Salah satu kekuatan buku ini adalah rentang sejarahnya.

Breverton tidak menganggap “teknologi” baru dimulai ketika manusia menemukan mesin uap. Ia membawa pembaca jauh ke belakang, ke dunia Mesir kuno, astronomi, teknik konstruksi, dan berbagai inovasi awal manusia. Deskripsi resmi buku menyebut rentangnya mulai dari pembangunan piramida hingga GPS, dari mata kail hingga serat optik dan dari mesiu hingga perangko.

Ini penting karena sering kali kita mengira teknologi adalah komputer, robot, internet dan kecerdasan buatan. Padahal sebuah mata kail adalah teknologi.

Roda adalah teknologi.
Kertas adalah teknologi.
Kompas adalah teknologi.

Bahkan sendok adalah teknologi, yakni sebuah alat yang menyelamatkan manusia dari pekerjaan yang sangat merepotkan: makan Soto Lamongan dengan tangan.

Yang berubah hanyalah tingkat kerumitannya.

 

Roda: inovasi sederhana yang membuat dunia bergerak

Roda adalah salah satu contoh paling elegan bahwa penemuan besar tidak selalu terlihat canggih. Penemuan ini memungkinkan transportasi, pengangkutan barang, mesin, dan kemudian berkembang menjadi komponen fundamental dalam hampir seluruh sistem mekanik.

Hari ini kita menemukannya pada mobil, sepeda, kereta api, turbin, mesin industri hingga berbagai robot.

Mirisnya, manusia berhasil menciptakan mobil yang mampu melaju ratusan kilometer per jam, tetapi persoalan mencari tempat parkir tetap belum ditemukan solusinya, terutama di kota yang sibuk seperti Jakarta.

 

Mesin Cetak: ketika informasi berhenti menjadi barang mewah

Perkembangan mesin cetak, terutama yang diasosiasikan dengan Johannes Gutenberg, merupakan salah satu revolusi terbesar dalam sejarah manusia.

Pengetahuan yang sebelumnya harus disalin dengan tangan dapat direproduksi dalam jumlah besar. Dampaknya luar biasa: penyebaran buku, pendidikan, agama, ilmu pengetahuan, surat kabar dan kemudian budaya literasi massal.

Kalau internet membuat informasi bergerak dengan kecepatan cahaya, mesin cetak adalah salah satu teknologi yang pertama kali membuat informasi bisa diproduksi secara massal. Tanpa mesin cetak, mungkin debat di media sosial hari ini masih berlangsung lewat ukiran batu.

 

Penisilin: penemuan yang menyelamatkan jutaan kehidupan

Penisilin menunjukkan bahwa penemuan ilmiah dapat mengubah bukan hanya teknologi, tetapi umur manusia.

Penemuan efek antibakteri jamur Penicillium oleh Fleming pada 1928 menjadi titik awal, tetapi transformasinya menjadi obat yang dapat digunakan secara klinis membutuhkan penelitian lanjutan dan kerja banyak ilmuwan. Warisan penemuan tersebut masih kita rasakan hingga hari ini.

Antibiotik telah menjadi fondasi pengobatan modern: dari infeksi bakteri hingga operasi yang sebelumnya berisiko sangat tinggi.

Tetapi di sinilah sejarah memberi kita ironi: manusia menemukan antibiotik untuk membunuh bakteri, kemudian menggunakan antibiotik secara berlebihan sehingga bakteri belajar melawan balik. Bakteri rupanya juga punya sekolah.

 

Roket: dari perang menuju angkasa

Roket merupakan contoh menarik mengenai sifat ganda teknologi.

Teknologi yang berkembang dalam konteks militer kemudian membantu manusia menjangkau ruang angkasa.

Hari ini prinsip roket memungkinkan satelit komunikasi, navigasi, observasi bumi, eksplorasi planet dan berbagai teknologi antariksa.

GPS yang menjadi bagian kehidupan sehari-hari pun pada dasarnya merupakan produk dari perkembangan teknologi ruang angkasa dan sistem navigasi satelit. Kita sekarang bisa mengetahui posisi kendaraan dalam hitungan detik.

 

Serat Optik: internet yang tidak kelihatan

Serat optik adalah salah satu teknologi yang sangat cocok dengan dunia modern karena bekerja diam-diam. Kita mungkin tidak pernah memikirkannya ketika melakukan panggilan video, mengirim foto, melakukan transaksi bank atau menonton film secara daring. Namun serat optik memungkinkan transmisi data dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi melalui cahaya.

Dari sini kita melihat satu hal penting yang ditekankan buku Breverton: teknologi yang paling revolusioner tidak selalu merupakan teknologi yang paling terlihat.

Kadang-kadang revolusi justru berlangsung di bawah tanah, di kabel laut, di dalam chip dan di laboratorium, sementara manusia sibuk memotret makanan dan makan siangnya, lalu membagikannya.

 

Penemuan Bukan Pekerjaan Seorang Jenius Sendirian

Salah satu pelajaran paling penting dari buku ini adalah bahwa sejarah penemuan tidak selalu merupakan sejarah “orang hebat”. Lebih tepatnya, ini merupakan sejarah jejaring manusia.

Sebuah penemuan sering kali merupakan hasil dari penemuan sebelumnya.

Roda membutuhkan pemahaman tentang material.
Mesin membutuhkan pengetahuan tentang energi.
Komputer membutuhkan matematika, logika, elektronika dan ilmu material.
Internet membutuhkan komputer, jaringan komunikasi dan protokol.
Smartphone membutuhkan telekomunikasi, mikroprosesor, baterai, layar, perangkat lunak dan jaringan internet.

Jadi, ketika seseorang mengatakan: “Saya menciptakan teknologi ini.’, kita bisa bertanya dengan dengan nada lembut: “Sendirian?”

 

Dari Penemuan ke Kehidupan Modern

Yang membuat buku Breverton tetap relevan adalah pertanyaan mengenai apa yang terjadi setelah sebuah penemuan lahir. Penemuan tidak berhenti ketika prototipe berhasil dibuat, namun hingga berubah menjadi industri.

Industri berubah menjadi kebiasaan, yang kemudian berubah menjadi budaya. Dan budaya akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang “memang sudah dari sananya”.

Kita tidak lagi berpikir tentang teknologi ketika menggunakan kartu pintar, telepon seluler, GPS atau jaringan internet. Semuanya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Padahal di balik benda sederhana yang kita gunakan setiap hari terdapat lapisan panjang sejarah manusia.

Sebuah smartphone, misalnya, adalah semacam museum mini peradaban: ada perkembangan listrik, transistor, komputer, satelit, komunikasi radio, layar, baterai, kamera digital, mikroprosesor, internet dan perangkat lunak.

Ironisnya, seluruh hasil kerja ribuan ilmuwan dan insinyur itu kini digunakan untuk satu kegiatan yang sangat penting bagi umat manusia: mengirim video kucing.

 

Kelemahan Buku: Terlalu Banyak Hal untuk Satu Buku

Sebagai ensiklopedia, buku ini tentu memiliki keterbatasan.

Cakupannya yang sangat luas membuat sebagian topik hanya dapat dibahas secara ringkas. Pembaca yang menginginkan uraian teknis mendalam mengenai sebuah penemuan tentu membutuhkan buku yang lain.

Selain itu, pendekatan ensiklopedis membuat pengalaman membaca lebih cocok untuk dicicil daripada ditelan sekaligus.

Buku ini bukan novel yang membuat kita penasaran dengan halaman terakhir. Lebih seperti gudang besar. Masuk untuk mencari satu barang, lalu menemukan lima barang lain yang tidak kita cari tetapi ternyata menarik.

Dan akhirnya dua jam kemudian kita masih berada di sana.

 

Mengapa Buku Ini Penting Sekarang?

Relevansi Breverton’s Encyclopedia of Inventions justru semakin terasa di zaman kecerdasan buatan.

Hari ini manusia sedang memasuki fase baru: bukan hanya menggunakan teknologi, tetapi menciptakan teknologi yang dapat membantu manusia menciptakan teknologi berikutnya.

AI, robotika, rekayasa genetika, energi terbarukan, komputasi kuantum dan teknologi antariksa sedang membentuk bab baru dalam sejarah inovasi. Karena itu, membaca sejarah penemuan menjadi penting.

Buku ini mengajarkan bahwa tidak ada teknologi yang muncul dari ruang kosong. Setiap inovasi memiliki leluhur. Dan setiap inovasi akan menjadi leluhur bagi inovasi berikutnya.

Penemuan terbesar abad ini mungkin bahkan belum ditemukan. Barangkali seseorang sedang mengerjakannya sekarang, di sebuah laboratorium, garasi, universitas, perusahaan rintisan, atau bahkan kamar tidur.

Tetapi ada satu syarat penting: orang itu harus berani bertanya: “Mengapa harus begini?” Dan disusul pertanyaan berikutnya: “Apa mungkin dibuat lebih baik?”

 

Akhirnya…

Breverton’s Encyclopedia of Inventions pada akhirnya bukan sekadar buku tentang benda. Ini adalah buku tentang rasa ingin tahu, tentang manusia yang tidak puas menerima dunia sebagaimana adanya.

Dari mata kail hingga GPS, dari piramida hingga rekayasa genetika, buku ini memperlihatkan bahwa peradaban dibangun oleh serangkaian pertanyaan kecil yang kemudian menghasilkan konsekuensi besar.

Itulah sebabnya buku ini layak dibaca bukan hanya oleh penggemar teknologi, tetapi juga oleh siapa pun yang ingin memahami bagaimana dunia modern terbentuk. Sebab pada akhirnya, peradaban tidak dimulai dari manusia yang mengetahui semua jawaban. Peradaban dimulai dari manusia yang cukup penasaran untuk mengatakan: “Bagaimana kalau dicoba?”

Dan mungkin itulah definisi paling sederhana tentang inovasi.

Kita menciptakan sesuatu, lalu menciptakan sesuatu yang lebih rumit untuk menjelaskan mengapa kita menciptakan sesuatu yang pertama tadi. Dan perjalanan itulah yang dengan menarik direkam Terry Breverton dalam buku ini.***

ARP, September 2026

 

Dapatkan Artikel Terbaru dari Kami