Resensi Buku: Bumi Dalam Keseimbangan – Ekologi dan Semangat Manusia

Resensi Buku: Bumi Dalam Keseimbangan - Ekologi dan Semangat Manusia

Bahwa Bumi yang Tak Pernah Benar-Benar Seimbang

Penulis: Al Gore | Judul: Bumi Dalam Keseimbangan: Ekologi dan Semangat Manusia | Judul Asli: Earth in The Balance: Ecology and Human Spirit | Penerbit: Yayasan Obor Indonesia | Tahun Terbit: 1994 | Tebal: xlvii + 535 halaman

 

Ada buku yang selesai dibaca lalu diletakkan di rak. Ada pula buku yang selesai dibaca, kemudian kita memandang dunia di luar jendela dengan sedikit rasa bersalah.

Bumi Dalam Keseimbangan: Ekologi dan Semangat Manusia termasuk jenis kedua.

Buku karya Al Gore ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris pada 1992 dengan judul Earth in the Balance: Ecology and the Human Spirit. Edisi Indonesianya diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada 1994, diterjemahkan oleh Hira Jhamtani.

Pada saat buku ini lahir, Al Gore belum menjadi wakil presiden Amerika Serikat. Ia masih senator yang sudah dikenal memiliki perhatian serius terhadap isu lingkungan. Buku ini kemudian menjadi salah satu karya penting yang membantu membawa persoalan lingkungan ke pusat perdebatan politik Amerika.

Dan, seperti banyak buku yang lahir dari kegelisahan, Bumi Dalam Keseimbangan sebenarnya bukan semata-mata buku tentang pohon, namun buku tentang keserakahan manusia, kesalahan cara berpikir, ekonomi, politik, teknologi, konsumsi, dan, ini yang paling menarik, hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Dengan kata lain: masalahnya bukan cuma hutan ditebang. Masalahnya adalah mengapa manusia merasa hutan memang diciptakan untuk ditebang.

 

Ketika Bumi Dianggap Seperti Toserba

Gagasan utama Al Gore sederhana tetapi mengganggu: peradaban modern telah memperlakukan bumi seolah-olah ia adalah gudang tanpa batas.

Ambil minyak.
Ambil gas.
Ambil kayu.
Ambil air.
Ambil mineral.
Buang limbah.

Kemudian, ketika sungai berubah warna dan udara membuat paru-paru protes, kita mengadakan seminar bertema “Ekonomi Hijau”.

Gore melihat krisis ekologis bukan sebagai kumpulan masalah yang berdiri sendiri. Pemanasan global, kerusakan lapisan ozon, deforestasi, pencemaran udara, krisis air, degradasi tanah, hilangnya keanekaragaman hayati dan persoalan sampah merupakan gejala dari persoalan yang lebih besar: cara manusia membangun peradabannya.

Struktur buku memperlihatkan cara berpikir tersebut. Bagian awal membahas berbagai ancaman ekologis; bagian kedua mencari keseimbangan melalui konsep self-stewardship, ekonomi ekologis, pola konsumsi dan apa yang disebut environmentalism of the spirit; sedangkan bagian akhir menawarkan gagasan tentang tujuan bersama dan sebuah “Global Marshall Plan” untuk menghadapi krisis lingkungan.

Jadi Gore tidak berhenti pada kalimat, “Jangan buang sampah sembarangan.” Ia bertanya lebih jauh: “Mengapa sistem ekonomi kita membuat kita terus-menerus memproduksi barang yang akhirnya menjadi sampah?”

Itu pertanyaan yang jauh lebih merepotkan. Sebab kalau persoalannya cuma membuang sampah, solusinya cukup menyediakan tempat sampah. Tetapi kalau persoalannya adalah sistem produksi dan konsumsi, maka yang harus dibuang mungkin bukan cuma sampah, melainkan juga beberapa kebiasaan berpikir kita.

Dan itu tentu lebih sulit

 

Ekologi Bukan Urusan Orang yang Kadang Memeluk Pohon

Salah satu kekuatan buku ini adalah upayanya mengeluarkan isu lingkungan dari sudut pandang sempit.

Lingkungan bukan urusan para aktivis yang berambut gondrong, memakai sandal gunung dan sesekali memeluk pohon. Lingkungan adalah urusan ekonomi, kesehatan, pangan, politik, keamanan, bahkan peradaban.

Ketika tanah rusak, produksi pangan terganggu.
Ketika air tercemar, kesehatan manusia terganggu.
Ketika iklim berubah, pertanian terganggu.
Ketika hutan hilang, keanekaragaman hayati ikut menghilang.
Ketika temperatur meningkat, pola cuaca berubah dan masyarakat menjadi semakin rentan.

Dengan demikian, pertanyaan ekologis sesungguhnya adalah: “Peradaban macam apa yang ingin kita wariskan?”

Gore bahkan menghubungkan persoalan lingkungan dengan sejarah peradaban. Salah satu bagian bukunya membahas hubungan antara iklim dan perjalanan peradaban manusia. Ini penting karena manusia sering memiliki ingatan yang aneh.

Kita bisa mengingat siapa pencetak gol pada final Piala Dunia 30 tahun lalu, tetapi sulit mengingat dari mana air minum kita berasal.

Kita bisa hafal harga saham, tetapi tidak tahu berapa banyak air yang diperlukan untuk menghasilkan makanan di piring.

Kita tahu harga sebuah mobil, tetapi jarang menghitung harga ekologis dari bahan bakar yang membawanya.

Gore meminta kita menghitung sesuatu yang selama ini sering dianggap gratis: ALAM.

 

“Eco-nomics”: Ketika Ekonomi Bertemu Ekologi

Bagian paling menarik dari buku ini justru ketika Gore masuk ke wilayah ekonomi. Ia menyadari bahwa kita tidak bisa menyelesaikan persoalan lingkungan hanya dengan mengimbau manusia agar menjadi lebih baik, sebab manusia hidup dalam sistem insentif.

Kalau merusak lingkungan lebih menguntungkan daripada menjaganya, akan selalu ada orang yang memilih merusak. Kalau membakar hutan memberikan keuntungan besar dan biaya kerusakannya ditanggung masyarakat, maka pasar akan mempunyai kecenderungan yang sangat sederhana: untungnya diraup pribadi, kerugiannya jadi beban publik.

Gore kemudian menawarkan gagasan tentang eco-nomics, cara melihat ekonomi dengan memasukkan konsekuensi ekologis ke dalam perhitungan ekonomi. Struktur bukunya memang memberikan ruang khusus untuk “Eco-nomics: Truth or Consequences” dan hubungan antara pola konsumsi dengan kerusakan lingkungan.

Di sinilah buku ini terasa sangat modern. Karena hingga hari ini, kita masih sering menghitung keuntungan pembangunan tanpa menghitung biaya ekologisnya secara penuh.

Sebuah proyek bisa disebut “menguntungkan” karena nilai investasinya besar. Tetapi bagaimana kalau kemudian:

  • sungainya tercemar,
  • sawah kehilangan air,
  • hutan menghilang,
  • masyarakat kehilangan mata pencaharian,
  • dan negara harus membayar biaya pemulihan?

Dalam paparan mungkin semuanya terlihat bagus. Dalam kehidupan nyata, paparan tidak bisa minum air sungai.

 

Semangat Manusia: Bagian yang Sering Dilupakan

Judul buku ini memiliki bagian yang sangat penting: “the human spirit.”

Gore tidak hanya melihat krisis ekologis sebagai persoalan teknis. Ia melihat ada persoalan moral dan psikologis di baliknya. Manusia modern mengalami semacam keterputusan dari alam.

Kita tinggal di gedung, bekerja di depan layar, bepergian dengan kendaraan bermotor, membeli makanan dalam kemasan, menyalakan pendingin ruangan dan memesan barang dari internet. Kemudian kita bertanya: “Kenapa iklim berubah?”

Pertanyaan itu kira-kira seperti orang yang menyalakan kompor sepanjang hari kemudian bertanya mengapa dapurnya panas.

Masalahnya adalah kita semakin jauh dari konsekuensi langsung dari tindakan kita.

Kita menekan tombol.
Energi datang.

Kita membuka keran.
Air mengalir.

Kita membuang sesuatu.
Barang itu hilang dari pandangan.

Teknologi membuat konsekuensi menjadi tidak terlihat. Dan sesuatu yang tidak terlihat sering kali dianggap tidak ada.

Di sinilah gagasan environmentalism of the spirit menjadi penting. Gore mengajak manusia membangun kembali hubungan moral dan psikologis dengan bumi, bukan hanya membuat regulasi lingkungan. Struktur bukunya memang menempatkan “Environmentalism of the Spirit” sebagai salah satu bagian penting sebelum masuk ke gagasan tentang tujuan bersama dan Global Marshall Plan.

 

Tiga Puluh Dua Tahun Kemudian: Apakah Gore Terlalu Paranoid?

Sekarang kita sampai pada bagian yang agak menyebalkan.

Buku ini terbit pada 1992. Edisi Indonesianya hadir pada 1994, dan hari ini sudah 2026. Juga ternyata bumi belum membaca buku ini. Kalau bumi membaca, mungkin ia akan berkata: “Saya sudah bilang.”

Ketika Gore menulis tentang pemanasan global, kerusakan hutan, air, tanah, biodiversitas, polusi dan konsumsi, sebagian persoalan itu masih dianggap sebagai ancaman masa depan. Hari ini, banyak di antaranya sudah menjadi persoalan masa kini.

Bahkan gambaran tentang perubahan iklim semakin sulit dianggap sebagai ramalan futuristik. Laporan-laporan terkini menunjukkan dunia telah mengalami pemanasan yang signifikan dan menghadapi peningkatan kejadian ekstrem seperti gelombang panas, kebakaran hutan, banjir dan badai. Artinya, relevansi buku ini bukan terletak pada apakah semua prediksi Gore tepat secara detail. Relevansinya terletak pada arah peringatannya.

Ia melihat bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar persoalan pencemaran lokal, tapi merupakan persoalan sistem. Dan sistem membutuhkan perubahan sistemik.

 

Indonesia dan Paradoks Pembangunan

Di Indonesia, buku ini bahkan terasa lebih relevan.

Kita memiliki hutan tropis yang luar biasa, kekayaan biodiversitas, laut yang luas, tanah subur dan sumber daya alam yang besar. Tetapi kita juga menghadapi persoalan deforestasi, degradasi lingkungan, polusi, pengelolaan sampah, tekanan terhadap ekosistem laut dan berbagai konsekuensi perubahan iklim.

Di satu sisi kita berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain kita berbicara tentang keberlanjutan.

Masalahnya muncul ketika dua kata itu hanya menjadi jargon.

“Pertumbuhan.”
“Hijau.”
“Berkelanjutan.”
“Rendah karbon.”

Semua terdengar indah, seperti tema seminar.

Tetapi pertanyaan Gore tetap menghantui: “Apakah sistem ekonominya benar-benar berubah?” Sebab, menanam sejuta pohon setelah menebang sejuta pohon tidak otomatis membuat kita menjadi negara ekologis. Itu mungkin hanya membuat kita menjadi negara yang sangat sibuk menanam kembali apa yang baru saja ditebang.

Apa yang Masih Kurang dari Buku Ini?

Tentu saja Bumi Dalam Keseimbangan bukan kitab suci lingkungan.

Sebagai buku yang lahir lebih dari tiga dekade lalu, beberapa analisis kebijakan dan solusi yang ditawarkan Gore dapat terasa terlalu optimistis terhadap kemampuan politik internasional.

Gagasan Global Marshall Plan, misalnya, terdengar megah dan masuk akal secara moral. Tetapi dunia nyata tidak bekerja seperti ruang rapat tempat semua negara tiba-tiba sepakat karena melihat grafik kerusakan bumi.

Politik memiliki kepentingan nasional.
Ekonomi memiliki kepentingan modal.
Negara memiliki kepentingan geopolitik.
Dan manusia memiliki kepentingan untuk menang dalam pemilu berikutnya.

Masalah lingkungan memiliki rentang 30, 50 bahkan 100 tahun. Politik sering memiliki rentang: “Bagaimana supaya survei bulan depan bagus?”

Di situlah persoalannya.

Gore benar bahwa kita membutuhkan perspektif jangka panjang. Tetapi tantangan terbesar bukan mengetahui apa yang harus dilakukan.

Tantangan terbesar adalah membuat manusia dan institusi politik mau melakukannya sebelum terlambat.

 

Apakah Buku Ini Masih Layak Dibaca?

Jawabannya: sangat layak, walaupun sudah “berumur”.

Buku ini memungkinkan kita melihat betapa banyak persoalan ekologis yang sekarang dianggap sebagai “isu baru” sebenarnya sudah dibicarakan puluhan tahun lalu. Itulah hal yang paling mengganggu dari membaca Bumi Dalam Keseimbangan hari ini.

Kita tidak sedang membaca ramalan. Kita sedang membaca peringatan yang sebagian sudah menjadi kenyataan.

Buku ini juga penting karena mengajarkan bahwa krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan teknologi.

Teknologi penting.
Energi terbarukan penting.
Kendaraan listrik penting.
Pengelolaan sampah penting.
Konservasi hutan penting.

Tetapi semuanya akan terbatas jika manusia tetap memiliki cara berpikir: “Berapa banyak yang bisa saya ambil?”

Pertanyaan yang lebih sehat mungkin seperti ini: “Berapa banyak yang bisa saya ambil tanpa menghancurkan kemampuan bumi untuk memberikan hal yang sama kepada generasi berikutnya?”

Itulah inti persoalan yang ingin disentuh Gore.

 

Buku Lama, Masalah Baru, Manusia yang Sama

Pada akhirnya, Bumi Dalam Keseimbangan adalah buku tentang sebuah paradoks.

Manusia adalah makhluk paling cerdas di bumi.

Kita bisa mengirim wahana ke Mars.
Kita bisa mengubah-ubah gen.
Kita bisa membuat kecerdasan buatan.
Kita bisa melakukan konferensi video dengan orang di belahan dunia lain.

Tetapi kita masih kesulitan melakukan sesuatu yang jauh lebih sederhana: berhenti merusak rumah sendiri. Itulah sebabnya judul Earth in the Balance terasa semakin ironis.

Bumi sebenarnya tidak membutuhkan manusia untuk “menyelamatkannya”. Bumi sudah bertahan jauh sebelum manusia muncul dan kemungkinan besar akan bertahan setelah manusia pergi.

Yang perlu kita selamatkan adalah kondisi bumi yang memungkinkan peradaban manusia tetap hidup dengan layak.

Dengan kata lain, ketika kita berbicara tentang menyelamatkan bumi, sebenarnya kita sedang berbicara tentang menyelamatkan diri sendiri. Dan mungkin itulah pelajaran paling penting dari buku Al Gore.

Krisis ekologis bukan terutama persoalan tentang bagaimana menyelamatkan alam, namun sebuah persoalan tentang bagaimana menyelamatkan cara berpikir manusia.

Karena kalau cara berpikir kita tidak berubah, kita boleh memiliki sebanyak mungkin teknologi hijau, kendaraan listrik, panel surya dan slogan go green. Bumi tetap akan menjadi pasien.

Dan manusia akan tetap menjadi dokter yang, setelah memeriksa pasien, diam-diam bertanya: “Kalau obatnya mahal, bagaimana kalau pasiennya saja yang disalahkan?”

Itulah mengapa Bumi Dalam Keseimbangan, meskipun ditulis lebih dari tiga puluh tahun lalu, masih terasa seperti buku yang baru saja dikirimkan kepada kita. Bukan karena Al Gore berhasil meramalkan masa depan dengan sempurna, melainkan karena kita ternyata terlalu lambat belajar dari masa lalu.

Dan mungkin bumi sekarang tidak membutuhkan pidato baru. Ia hanya membutuhkan manusia yang akhirnya mau mendengarkan.***

ARP, September 2026

 

Dapatkan Artikel Terbaru dari Kami