Penulis: Syekh Nizami Ganjavi | Judul: Layla Majnun | Disadur Dari: The Classic Love Story of Persian Literature | Penerbit: DIVA Press | Tahun Terbit: 2023 | Tebal: 232 halaman
Ada banyak kisah cinta dalam sejarah. Ada Romeo dan Juliet yang memilih mati bersama. Ada Sampek Engtay yang menjelma kupu-kupu. Ada juga kisah cinta yang kandas karena “beda server”. Namun jauh sebelum semua itu, dunia Persia telah menghadiahkan sebuah legenda yang menjadi cetak biru hampir seluruh kisah cinta tragis: Layla Majnun.
Melalui edisi terbaru DIVA Press (2023) yang disadur dari The Classic Love Story of Persian Literature, pembaca Indonesia kembali diajak menikmati mahakarya Syekh Nizami Ganjavi, penyair besar Persia abad ke-12. Bukan sekadar kisah asmara, novel ini adalah perjalanan spiritual tentang bagaimana cinta dapat berubah menjadi bentuk pengabdian yang nyaris mistis.
Ironisnya, setelah membaca buku ini, Anda mungkin akan merasa bahwa kisah cinta Anda yang gagal karena “dia cuma menganggapku teman” ternyata masih tergolong kategori ringan.
Ketika Cinta Menjadi Jalan Menuju Tuhan
Tokoh utamanya bernama Qays ibn al-Mulawwah, seorang pemuda Arab yang jatuh cinta kepada Layla sejak masa kanak-kanak.
Masalahnya sederhana, sekaligus rumit.
Mereka saling mencintai.
Keluarga mereka tidak setuju.
Selesai.
Atau justru semuanya baru dimulai.
Karena cintanya yang tak pernah terbalas melalui pernikahan, Qays kehilangan kewarasannya menurut ukuran masyarakat waktu itu. Ia mengembara di padang pasir, berbicara dengan binatang, menulis puisi tanpa henti, menolak kehidupan sosial, hingga akhirnya dijuluki Majnun. Orang gila.
Namun kegilaan itu bukanlah kegilaan biasa.
Dalam tradisi sastra sufi, Majnun justru dianggap telah melampaui cinta duniawi. Layla menjadi lambang keindahan ilahi. Sementara pencarian terhadap Layla berubah menjadi perjalanan menuju Tuhan. Karena itu, pembaca modern yang berharap menemukan novel romantis ala komedi romantis kemungkinan akan kecele. Tidak ada adegan saling berkirim emoji hati. Yang ada justru halaman-halaman puisi yang mengajak pembaca merenungkan hakikat cinta, kehilangan, kerinduan, dan pengorbanan.
Bahasa yang Puitis, Bukan Tergesa-gesa
Keunggulan edisi DIVA Press terletak pada penyadurannya yang relatif mudah diikuti pembaca masa kini tanpa menghilangkan nuansa klasiknya.
Kalimat-kalimat Nizami tetap terasa seperti puisi yang sedang menyamar menjadi novel.
Setiap dialog dipenuhi metafora. Padang pasir berubah menjadi panggung kontemplasi. Bahkan seekor rusa pun bisa menjadi teman diskusi Majnun mengenai cinta.
Bagi pembaca yang terbiasa membaca novel cepat dengan dialog pendek dan bab yang selesai dalam sekali menyeruput kopi gula aren, ritme Layla Majnun mungkin terasa lambat. Tetapi justru di situlah kenikmatannya. Buku ini tidak mengajak pembaca berlari mengejar plot. Ia mengajak kita duduk diam, lalu membiarkan setiap kalimat meresap perlahan.
Dari Padang Pasir Menuju Panggung Rock
Pengaruh kisah Layla ternyata tidak berhenti di dunia sastra Timur Tengah.
Berabad-abad kemudian, legenda ini menginspirasi Eric Clapton bersama Jim Gordon ketika menciptakan lagu legendaris Layla pada tahun 1970, yang pertama kali direkam oleh grup Derek and the Dominos.
Menariknya, Clapton sendiri sedang mengalami “versi modern” dari kisah Majnun.
Ia jatuh cinta kepada Pattie Boyd, istri sahabatnya sendiri, George Harrison. Karena cintanya mustahil diwujudkan saat itu, Clapton menemukan dirinya begitu dekat dengan penderitaan Majnun. Ia kemudian membaca kisah Layla and Majnun, melalui adaptasi Barat yang dipopulerkan penulis Persia-Inggris Idries Shah, dan merasa emosinya terwakili.
Hasilnya adalah salah satu lagu cinta paling monumental sepanjang sejarah musik rock.
Bagian awal lagu Layla terdengar meledak-ledak, penuh hasrat dan frustrasi. Lalu tiba-tiba berubah menjadi tenang, melankolis, dan seolah menerima kenyataan bahwa tidak semua cinta harus diwujudkan dalam sertifikat hak milik.
Jika Majnun menulis puisi di padang pasir, Clapton menumpahkan perasaannya lewat gitar.
Media berbeda. Patah hatinya sama-sama serius.
Ketika Layla Singgah di Layar Bioskop Indonesia
Legenda ini juga pernah berlayar ke perfilman Indonesia melalui film klasik Laila Majenun (1975).
Film tersebut tidak sepenuhnya mengadaptasi teks Nizami secara harfiah, melainkan mengambil kerangka besar kisah cinta tragis antara dua insan yang dipisahkan oleh keadaan sosial. Seperti banyak film Indonesia pada era 1970-an, unsur melodrama diperkuat agar lebih dekat dengan selera penonton lokal.
Di tangan sineas Indonesia, Sjuman Djaja, Layla dan Majnun menjadi lebih membumi. Konflik keluarga, norma masyarakat, dan pengorbanan cinta tetap menjadi pusat cerita, tetapi dengan nuansa budaya Nusantara yang lebih akrab bagi penonton saat itu.
Fenomena ini menunjukkan betapa lenturnya kisah Layla Majnun. Ia dapat berpindah dari puisi Persia menjadi opera, balet, lukisan miniatur, lagu rock, hingga film Indonesia tanpa kehilangan jantung ceritanya.
Mengapa Kisah Ini Tidak Pernah Mati?
Karena sebenarnya Layla Majnun bukan sekadar kisah dua orang yang gagal menikah. Kisah ini berbicara tentang kerinduan manusia terhadap sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa dimiliki.
Tentang cinta yang bertahan justru karena tidak pernah selesai. Tentang harapan yang hidup bahkan ketika kenyataan berkata sebaliknya.
Tidak mengherankan jika selama hampir sembilan abad kisah ini terus diterjemahkan ke puluhan bahasa, dipentaskan, difilmkan, dinyanyikan, dan ditafsirkan ulang.
Bahkan mungkin, setiap generasi selalu melahirkan Majnun-Majnun baru. Bedanya, kini mereka tidak lagi mengembara di padang pasir, melainkan berkeliaran di media sosial sambil diam-diam mengawasi apakah pesan mereka sudah dilihat.
Akhirnya
Membaca Layla Majnun sama seperti mendengarkan lagu Layla karya Eric Clapton sambil menonton film Laila Majenun versi Indonesia, lalu menyadari bahwa ketiganya berasal dari mata air yang sama: sebuah legenda Persia yang telah mengalir melintasi sembilan abad.
Novel ini mengingatkan bahwa cinta terbesar sering kali bukanlah cinta yang berhasil dipersunting, melainkan cinta yang mengubah seseorang menjadi pribadi yang berbeda. Bagi Qays, perubahan itu menjadikannya Majnun. Bagi Eric Clapton, lahirlah sebuah lagu yang abadi. Bagi pembaca, mungkin cukup menjadi alasan untuk percaya bahwa sastra klasik tidak pernah benar-benar tua. Ia hanya berganti bahasa, medium, dan generasi. Mirip-mirip hukum kekekalan energi.
Dan jika setelah menutup buku ini Anda mendadak ingin memutar lagu Layla, jangan khawatir. Itu bukan tanda Anda menjadi Majnun, tapi cuma bukti bahwa kisah cinta yang dahsyat memang selalu menemukan cara untuk terus bergema.***
ARP, Juli 2026




