Keajaiban Indonesia: Mi Instan

Saya sendiri pertama kali makan mi instan yang bermerek SuperMie mungkin di era tahun 70-an

CANDABISNIS.COM — Anda mungkin tidak percaya kalau saya katakan mi instan adalah salah satu pilar keajaiban ekonomi Indonesia. Saya sendiri pertama kali makan mi instan yang bermerek SuperMie mungkin di era tahun 70-an. Merek mi instan Supermi memang sudah hampir punah karena dilindas raksasa Indomie. Dalam hal konsumsi, Indonesia masih kalah dengan Vietnam dan Thailand. Konsumsi mi instan di Indonesia mencapai 14,7 miliar porsi/bungkus per tahun. Penetrasi mencapai 95% di seluruh rumah tangga. Dan konsumsi mencapai hampir 52 bungkus per orang. Konon, Indomie sendiri memiliki konsumen di hampir 100 negara di seluruh dunia.

Yang luar biasa pula, mereka punya 10 pabrik tersebar di seluruh dunia – yang membuat Indomie menjadi sensasi kuliner global. Ini prestasi ajaib ! Kalau Anda telusuri di sosmed, banyak sekali inovasi dan kreasi yang menggunakan Indomie. Yang pertama tentu saja adalah Warmindo alias warung yang menjual hidangan Indomie dalam berbagai rasa dan racikan inovatif. Dengan tambahan “topping” dan bumbu yang unik pula. Mulai dari telur hingga sayur dan berbagai saus. Dan Indomi sekarang juga menjadi hidangan “fusion” bersama tukang bakso atau tukang cuanki dan lainnya.

Inovasi ini terus berkembang dan menjangkau kuliner-kuliner lainnya. Misalnya saja sekarang ada Indomie yang dipadukan dengan ketoprak misalnya. Terus ada juga Indomie yang menjadi bagian dari Nasi Goreng Magelangan. Kemaren di SosMed saya menemukan Indomie yang dipadukan dengan Martabak. Jadi inovasi ini berputar terus tanpa habisnya. Tapi sensasi inovasi kuliner ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi juga di luar negeri. Para diaspora Indonesia di seluruh dunia mencoba memadukan hidangan “iconic” Indomie dengan kuliner lainnya. Di Australia saya dengar ada burger dengan Indomie.

Seorang teman Chef bercerita bahwa hidangan “iconic” Indomie, terutama jenis rasa Mi Goreng memang telah menjadi hidangan kuliner yang nagih. Nah, mengembangkannya dengan hidangan “iconic” lainnya menjadi sangat mudah sekali. Asalkan Anda punya imajinasi yang nempel dan nagih, maka akan tercipta inovasi yang meledak.

Teman saya seorang warga negara Amerika yang sempat bertugas di Indonesia lebih dari 6 tahun, Anak-anaknya sudah terbiasa sarapan dengan Indomie, sehingga ketika ia kembali ke Amerika, anak-anaknya masih nagih dan minta dikirimi Indomie. Maka terpaksa beberapa kenalan mereka mengirim Indomie dari Indonesia tiap bulan.

Bagi Saya, strategi ini memotret sebuah road-map. Yaitu dari ide yang sangat sederhana – Anda bisa melontarkan imajinasi. Dan imajinasi bisa saja menjadi liar tanpa batas. Keduanya berpadu menjadi poros inovasi yang cespleng. Pelaku inovasi Indomie hampir semuanya orang kecil atau pengusaha UMKM. Bukan chef-chef kelas dunia. Jadi, ingatlah bahwa inovasi itu milik semua orang. Dan bukan mereka yang jenius. Rumusnya selalu ide + imajinasi = inovasi !.

Penulis: Kafi Kurnia

 

 

 

 

Dapatkan Artikel Terbaru dari Kami