Jangan Terlalu Yakin dengan Apa yang Kita Tahu
Editor: Russ Kick | Penerbit: The Disinformation Company Ltd | Cetakan ke: 4 | Tahun Terbit: 2004 | Tebal: 346 halaman
Ada buku yang memberi kita pengetahuan. Ada pula buku yang membuat kita meragukan pengetahuan yang sudah kita miliki. Everything You Know Is Wrong karya Russ Kick termasuk jenis kedua, dan mungkin itu sebabnya judulnya terasa sedikit kurang sopan.
Diterbitkan oleh The Disinformation Company Ltd pada 2004 dan telah mencapai cetakan keempat, buku ini merupakan kumpulan tulisan yang membongkar berbagai informasi, mitos, kepentingan politik, ekonomi, dan narasi resmi yang selama ini diterima sebagai kebenaran. Para kontributornya berasal dari berbagai latar belakang, termasuk jurnalis, akademisi, aktivis, dan penulis investigatif.
Topiknya pun tidak main-main: dari industri farmasi, globalisasi, perbankan, perang narkoba, propaganda, hingga berbagai peristiwa kontroversial dalam sejarah Amerika. Buku ini seolah mengajak pembaca masuk ke sebuah ruangan penuh papan tulis, benang merah, dokumen rahasia, dan pertanyaan yang membuat kita sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang sedang mengintip.
Namun, kekuatan buku ini bukan terletak pada klaim bahwa semua yang kita ketahui memang salah. Justru judulnya sebaiknya dibaca sebagai metafora: jangan terlalu cepat menganggap sesuatu sebagai kebenaran hanya karena sudah lama dipercayai.
Di sinilah buku ini sekaligus memiliki kelemahan. Sikap kritis terhadap narasi resmi dapat menjadi sehat, tetapi skeptisisme juga bisa berubah menjadi dogma baru. Menolak semua informasi resmi sama tidak rasionalnya dengan mempercayai semuanya. Menemukan bahwa pemerintah atau media pernah berbohong tidak otomatis membuat setiap teori konspirasi menjadi benar.
Dengan kata lain, skeptisisme yang sehat mempertanyakan semua pihak, termasuk pihak yang kita sukai.
Mengapa Masih Relevan?
Menariknya, persoalan yang dibahas Russ Kick justru semakin relevan pada 2026.
Ketika buku ini terbit, internet belum menjadi mesin informasi seperti sekarang. Hari ini kita hidup dalam dunia TikTok, YouTube, Instagram, WhatsApp, algoritma, influencer, AI generatif, dan deepfake. Informasi palsu tidak lagi membutuhkan koran palsu atau stasiun televisi gadungan. Cukup sebuah telepon genggam, kreativitas, dan koneksi internet.
Dulu kita bertanya: “Siapa yang mengendalikan media?” Sekarang pertanyaannya menjadi: “Siapa yang mengendalikan apa yang muncul di layar saya?”
Kita menghadapi persoalan yang lebih rumit: bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi yang belum tentu benar.
Sebuah video berdurasi 30 detik bisa lebih dipercaya daripada laporan penelitian 30 halaman. Sebuah screenshot dapat dianggap sebagai bukti. Dan kalimat “katanya…” kini memiliki kemampuan distribusi yang luar biasa.
Algoritma bahkan tidak terlalu peduli apakah informasi itu benar. Yang penting kita berhenti menggulir layar.
Karena itu, pesan terpenting buku ini bukanlah “percayalah pada teori alternatif”, melainkan periksa kembali apa yang Anda percaya.
Siapa yang mengatakan?
Apa buktinya?
Apa sumber aslinya?
Dan siapa yang mendapatkan keuntungan jika kita mempercayainya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut menjadi semakin penting di tengah banjir hoaks, propaganda, clickbait, AI, dan disinformasi.
Jangan Sampai Semua Menjadi Salah
Ada ironi menarik dalam buku ini. Ia mengajak kita mempertanyakan informasi resmi. Tetapi jika dibaca secara ekstrem, pembaca bisa sampai pada kesimpulan bahwa semua informasi adalah kebohongan.
Itu juga berbahaya.
Mengatakan “saya tidak tahu” adalah awal dari penyelidikan. Mengatakan “semuanya bohong” justru bisa menjadi akhir dari penyelidikan.
Karena itu, Everything You Know Is Wrong paling tepat dibaca bukan sebagai kitab kebenaran alternatif, melainkan sebagai latihan intelektual untuk meragukan keyakinan sendiri.
Buku ini sudah berusia lebih dari dua dekade, tetapi pertanyaannya masih sangat muda.
Bahkan mungkin semakin mendesak.
Sebab di zaman ketika AI bisa membuat wajah, suara, foto, dan video yang tidak pernah terjadi, kemampuan paling penting bukan sekadar mengetahui banyak hal.
Melainkan kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya: “Buktinya apa?”
Pada akhirnya, mungkin Russ Kick tidak benar-benar ingin mengatakan bahwa semua yang kita tahu adalah salah.
Ia hanya ingin membuat kita sedikit lebih rendah hati terhadap pengetahuan kita sendiri. Dan di zaman sekarang, itu bukan sikap buruk.
Itu adalah keterampilan bertahan hidup.***
ARP, Agustus 2026




