CANDABISNIS.COM — Pagi itu tanggal 17 Agustus dan Indonesia merayakan ultahnya yang ke 81. Langit sangat cerah dan biru. Saya sedang sarapan di pantai Seminyak. Menikmati pagi yang damai. Di menu sarapan pagi ada Nasi Jinggo. Dan sudah lama saya tidak menyantap nasi jinggo.
Menurut Chef Henry Alexie Bloem, nasi jinggo adalah ciptaan Ibunya Ni Ketut Ngasti, yang terinspirasi dari panggilan anaknya Chef Bloem yang berasal dari film Django. Nasi Jinggo sangatlah sederhana, nasi porsi kecil dengan telor yang diberi sambal dan mie goreng. Mirip juga dengan konsep nasi kucing di Djogjakarta. Yang digandrungi kaum mahasiswa.
Ketika saya kecil, sering lewat di rumah saya penjual, nasi uduk porsi kecil, yang diberi suiran telur dadar dan bihun goreng. Nasi porsi kecil ini mungkin tidak bisa membuat kita kenyang, namun minimal bisa mengganjal rasa lapar. Seorang teman di Djogjakarta menyebutnya sebagi perlawanan terhadap kemiskinan. Dan teman di Bali menyebutnya sebagai nasi kere.
Saya jadi ingat nasehat mentor spiritual saya Mpu Peniti yang mengatakan bahwa kemiskinan mesti kita rangkul dan kita nikmati dengan penuh keakraban sebagai sebuah bagian dari kehidupan. Menurut beliau hanya dengan menikmati kemiskinan kita belajar punya semangat berjuang. Sebuah nasehat yang selalu saya ingat setiap kali saya jatuh dan mengalami kegagalan.
Usai saya menyantap nasi Jinggo sambil menikmati kopi susu, seorang pelayan menawarkan saya santapan berikutnya yaitu Tipat Blayag dari Buleleng. Sang pelayan menjamin porsinya juga sangat kecil. Saya penasaran dan mengiyakan.
Tipat atau ketupat Blayag ini dibuat dari ketupat yang di buat di daun janur. Jadi memang sangat luar biasa. Disajikan di batok kelapa kecil dengan kuah mirip kari yang kental dengan urap dan suwiran ayam.
Tipat Blayag ternyata sajian yang sangat sakral, seringkali disantap bersama-sama seusai upacara agama, sebagai simbol kebersamaan dan integrasi sosial. Tiba-tiba saja dada saya menjadi sangat lapang, karena di hari kemerdekaan yang sangat sakral ini, saya menyantap 2 makanan sederhana namun sarat dengan makna. Ketika angin pagi membelai saya, terasa tangan Tuhan juga menyapa saya, dan sangat terasa bahwa kemerdekaan kali ini ada makna yang luar biasa.
Kemerdekaan barangkali memiliki dua makna yang sangat sakral, yaitu perjuangan yang membutuhkan semangat dengan kesiapan yang senantiasa tidak pernah redup sekali pun. Kita diberikan kemerdekaan, maka tanggung jawab kita adalah selalu berjuang mengisi kemerdekaan itu.
Makna yang kedua adalah makna dari Tipat Blayag, yaitu kebersamaan yang sudah mendarah daging – gotong royong, saling membantu menjadikan kita masyarakat yang memiliki toleransi antara sesama. Karena hanya dari kebersamaan inilah kita memiliki kekuatan yang tak terkalahkan. Saling mendukung menjadikan perjuangan kita tak akan terkalahkan.
Dirgahayu Indonesia-ku. Jayalah negeri-ku!
Penulis: Kafi Kurnia




