Ketika Penjahat Menjadi Saksi Sejarah
Penulis: Junichi Saga | Judul: Confessions of a Yakuza | Judul Asli: Asakusa Bakuto Ichidai | Penerbit: Kodansha, Tokyo | Tahun Terbit: Edisi Bahasa Inggris, 1991 | Tebal: 253 halaman
Ada orang yang menghabiskan masa tua dengan mengenang masa muda, sambil sesekali mengeluh tentang harga beras, lutut yang mulai berderit, dan anak-anak zaman sekarang. Eiji Ijichi punya bahan nostalgia yang sedikit berbeda: perjudian ilegal, penjara, kekerasan, perempuan, dunia kriminal Tokyo, dan perjalanan hidup yang membawanya menjadi bos yakuza.
Kisah hidupnya direkam oleh Junichi Saga, seorang dokter Jepang yang memiliki kebiasaan menarik: ia tidak hanya mendengarkan keluhan pasien tentang penyakit, tetapi juga cerita tentang kehidupan mereka. Dari kebiasaan itulah lahir Confessions of a Yakuza, sebuah buku yang membawa pembaca masuk ke dunia kriminal Jepang melalui ingatan seorang pelakunya sendiri.
Buku ini menarik bukan karena berusaha membuat penjahat terlihat gagah, melainkan karena memperlihatkan bahwa kehidupan manusia jauh lebih rumit daripada label yang ditempelkan masyarakat kepadanya. Seorang kriminal bisa mempunyai prinsip, kasih sayang, dan kesetiaan, tetapi pada saat yang sama melakukan kekerasan, melanggar hukum, dan menghancurkan kehidupan orang lain.
Dengan kata lain, manusia tidak selalu sesederhana kategori baik dan buruk. Namun, memahami kerumitan manusia juga bukan berarti harus menafikan kesalahannya.
Anak Muda yang Menjadi Juragan Dunia Hitam
Tokoh sentral buku ini adalah Eiji Ijichi, seorang lelaki Jepang yang menjelang akhir hayatnya menceritakan kembali perjalanan hidupnya kepada Junichi Saga, dokter yang merawatnya. Saga merekam kisah-kisah tersebut dan menyusunnya menjadi sebuah narasi yang menghidupkan kembali suasana Jepang pada paruh pertama abad ke-20.
Perjalanan Ijichi dimulai ketika ia masih muda dan meninggalkan rumahnya di Utsunomiya menuju Tokyo. Keputusan itu menjadi pintu masuk menuju kehidupan yang jauh dari keteraturan keluarga. Ia sempat bekerja pada usaha perdagangan batu bara milik kerabatnya di Fukagawa, tetapi kehidupan konvensional tidak cukup lama menahannya.
Tokyo yang ia masuki bukan sekadar kota besar dengan peluang kerja. Di balik hiruk-pikuk kawasan hiburan, terdapat dunia perjudian, kelompok-kelompok kriminal, dan jaringan kekuasaan informal yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat.
Ijichi akhirnya terlibat dalam kelompok yang mengendalikan perjudian di kawasan Asakusa. Dari seorang anak muda yang mencari jalan hidup, ia perlahan masuk ke lingkungan yang menuntut keberanian, loyalitas, kepatuhan terhadap aturan kelompok, serta kesediaan menghadapi risiko kekerasan dan hukuman penjara.
Kisahnya bergerak melalui berbagai episode: hubungan asmara, konflik, penangkapan polisi, kehidupan di balik jeruji, pengalaman militer di Korea yang berada di bawah pendudukan Jepang, serta perubahan masyarakat akibat gempa besar Kanto pada 1923 dan pergolakan perang. Ia kemudian naik menjadi pemimpin kelompoknya sendiri.
Salah satu bagian yang paling mencolok adalah penggambaran adat dunia yakuza, termasuk ritual memotong sebagian jari kelingking sebagai bentuk permintaan maaf atau penebusan kesalahan. Dalam lingkungan yang menempatkan kehormatan kelompok di atas keselamatan pribadi, tubuh sendiri dapat dijadikan alat untuk membuktikan kesungguhan.
Kita juga melihat bagaimana uang, kekuasaan, dan loyalitas beroperasi di dunia perjudian ilegal. Ada aturan yang dipatuhi, hierarki yang dihormati, dan hubungan antaranggotanya yang menyerupai persaudaraan. Akan tetapi, aturan internal tersebut tidak menjadikan organisasi itu bermoral. Kesetiaan kepada kelompok dapat hidup berdampingan dengan kekejaman terhadap orang di luar kelompok, bahkan terhadap orang yang berada di bawah kekuasaannya sendiri.
Kehidupan Ijichi pada akhirnya bukan kisah sukses seorang penjahat. Ia adalah perjalanan panjang seseorang yang mengumpulkan pengalaman, luka, dan penyesalan, lalu berusaha menuturkan semuanya ketika waktu yang tersisa semakin sedikit.
Membaca Yakuza Tanpa Kacamata Film Gangster
Salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya menggeser sudut pandang pembaca. Dalam film-film gangster, yakuza kerap tampil dengan tato yang memenuhi tubuh, jas necis, wajah dingin, dan kesetiaan yang seolah-olah tidak bisa dibeli dengan uang. Mereka terlihat seperti perpaduan antara samurai, pengusaha, dan orang yang kebetulan tidak terlalu akrab dengan hukum pidana.
Buku Saga menawarkan gambaran yang lebih membumi. Dunia yakuza bukan panggung tempat para lelaki tangguh mempertontonkan keberanian. Ia adalah lingkungan sosial dengan kepentingan ekonomi, hierarki, perjudian, persaingan, kekerasan, dan konsekuensi hukum. Di sana, kehormatan bisa menjadi prinsip hidup sekaligus alat untuk mempertahankan kekuasaan.
Ijichi juga bukan tokoh yang dibangun untuk menjadi pahlawan. Ia dapat bersikap keras, tetapi tidak sepenuhnya kehilangan perasaan. Ia memiliki loyalitas, tetapi loyalitas itu tidak menghapus perbuatan buruknya. Ia bisa menjalani kehidupan penuh risiko dengan disiplin, tetapi kedisiplinan tidak otomatis menjadikannya orang baik.
Penerbit Kodansha menggambarkan karakter Ijichi sebagai sosok yang kontradiktif: keras tetapi tidak sepenuhnya tanpa perasaan, keras kepala tetapi mampu menerima perjalanan hidup, serta impulsif namun tetap mematuhi aturan dunia yang dipilihnya.
Di sinilah daya tarik sekaligus tantangan moral buku tersebut. Kita dapat memahami seseorang tanpa harus membenarkan semua tindakannya.
Sejarah yang Diceritakan Melalui Seorang Manusia
Buku ini bukan hanya kisah seorang gangster. Ia juga merupakan catatan sejarah sosial Jepang pada masa ketika masyarakat mengalami perubahan besar.
- Tokyo sebagai panggung perubahan sosial
Kisah Ijichi membawa kita ke lingkungan perkotaan yang ramai, dunia perdagangan kecil, perjudian, dan kawasan hiburan. Sejarah terasa lebih dekat karena hadir melalui pengalaman orang yang benar-benar menjalani kehidupan di dalamnya.
- Sejarah besar dan nasib individu
Gempa Kanto 1923, pengalaman militer, serta pergolakan zaman menjadi bagian dari kehidupan tokoh utama. Peristiwa sejarah tidak lagi sekadar tanggal dalam buku pelajaran, tetapi sesuatu yang memengaruhi pekerjaan, hubungan, dan pilihan hidup manusia.
- Dunia kriminal dari dalam
Pembaca mendapatkan gambaran tentang cara kerja perjudian ilegal, pembagian keuntungan, hubungan antarang anggota, dan aturan internal kelompok. Ini merupakan sudut pandang orang dalam, bukan semata-mata cerita polisi yang memburu penjahat.
Pendekatan Junichi Saga sebagai pencatat sejarah lisan membuat buku ini terasa berbeda dari novel kriminal. Ia mendengarkan kisah pasiennya, merekam ingatan, dan memberi ruang bagi pengalaman yang mungkin tidak pernah tercatat dalam dokumen resmi. Namun, karena kisahnya bersumber dari ingatan seseorang, pembaca tetap perlu memahami bahwa memoar merupakan pengalaman yang diceritakan dari satu sudut pandang, bukan rekaman sejarah yang sepenuhnya netral.
Apa yang Bisa Dipelajari?
- Pilihan kecil dapat membawa kita ke kehidupan yang sangat berbeda
Ijichi tidak memulai kehidupannya dengan sebuah deklarasi bahwa ia ingin menjadi bos kriminal. Perjalanannya terbentuk dari serangkaian keputusan, pertemuan, hubungan, dan keadaan yang membawanya semakin jauh ke dunia tersebut.
Pelajarannya bukan bahwa manusia sepenuhnya ditentukan oleh nasib. Justru sebaliknya: kita perlu menyadari bahwa pilihan yang tampak kecil dapat menciptakan arah kehidupan yang semakin sulit diubah.
Sekali seseorang masuk ke dalam lingkungan yang menormalisasi kekerasan atau pelanggaran hukum, keluar darinya tidak selalu mudah. Loyalitas, utang budi, ketergantungan ekonomi, dan ketakutan dapat mengunci seseorang lebih kuat daripada pintu penjara.
- Loyalitas tidak selalu sama dengan moralitas
Salah satu unsur penting dalam kehidupan yakuza adalah persaudaraan dan kesetiaan kepada kelompok. Anggota diharapkan menghormati pemimpin, mematuhi aturan, dan bersedia menanggung konsekuensi atas tindakannya.
Sekilas, prinsip itu terdengar mulia. Bukankah masyarakat juga membutuhkan solidaritas dan rasa tanggung jawab?
Masalahnya muncul ketika kesetiaan kepada kelompok lebih tinggi daripada tanggung jawab terhadap masyarakat. Seseorang bisa sangat setia kepada atasannya, tetapi tidak jujur kepada orang lain. Ia bisa rela berkorban demi kelompoknya, tetapi tidak peduli terhadap korban kekerasan yang ditimbulkannya.
Loyalitas baru menjadi kebajikan ketika tidak mengharuskan seseorang mengkhianati hati nuraninya.
Pelajaran ini berlaku jauh di luar dunia kriminal. Di kantor, organisasi, komunitas, bahkan keluarga, kesetiaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk membungkam kritik atau melindungi kesalahan.
- Sistem nilai yang kuat belum tentu menghasilkan tindakan yang benar
Dunia yakuza memiliki tata tertib, hierarki, dan ritual. Bahkan ada bentuk hukuman simbolis untuk menunjukkan penyesalan atas kesalahan. Akan tetapi, keberadaan aturan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa suatu kelompok bermoral.
Organisasi yang sangat disiplin pun dapat melakukan tindakan yang merugikan orang lain apabila tujuannya keliru.
Kita perlu membedakan tiga hal: kepatuhan, kehormatan, dan kebaikan. Ketiganya tidak selalu berjalan bersama. Orang dapat patuh terhadap aturan kelompok, dianggap terhormat oleh anggotanya, tetapi tetap melakukan perbuatan yang salah secara etis maupun hukum.
- Masa lalu seseorang tidak bisa diringkas menjadi satu label
Ijichi adalah seorang pelaku kriminal. Fakta itu tidak perlu disamarkan. Namun, ketika ia menceritakan hidupnya, kita juga melihat manusia dengan hubungan pribadi, perasaan, ambisi, dan kelemahan.
Memahami sisi manusiawi pelaku kejahatan bukan berarti menghapus penderitaan korbannya. Sebaliknya, pemahaman itu membantu kita melihat bagaimana seseorang dapat melakukan perbuatan buruk tanpa selalu menganggap dirinya sebagai orang jahat.
Inilah pelajaran penting bagi masyarakat yang gemar memberi cap: penjahat, pengkhianat, pecundang, atau orang gagal. Label mungkin berguna untuk menggambarkan suatu tindakan, tetapi tidak selalu cukup untuk menjelaskan seluruh kehidupan seseorang.
Tentu saja, memahami manusia bukan berarti menghapus tanggung jawabnya. Empati dan pertanggungjawaban justru seharusnya berjalan beriringan.
- Kekuasaan dan uang tidak menjamin ketenangan hidup
Dari perjudian ilegal hingga kepemimpinan kelompok, kisah Ijichi memperlihatkan bagaimana uang dan kekuasaan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun, keduanya datang bersama risiko, konflik, dan konsekuensi yang tidak sederhana.
Dalam dunia yang dibangun di atas rasa takut, seseorang mungkin dihormati karena kekuasaannya, tetapi penghormatan itu tidak selalu sama dengan kasih sayang atau kepercayaan.
Bos bisa memerintah banyak orang, tetapi belum tentu mempunyai seorang teman yang dapat mengatakan bahwa ia salah tanpa takut dihukum.
Ada ironi di sini: seseorang bisa menghabiskan hidup membangun kekuasaan, tetapi akhirnya hanya mempunyai ingatan untuk menemaninya.
- Setiap orang membutuhkan kesempatan untuk menceritakan hidupnya
Bagi saya, peran Junichi Saga sama pentingnya dengan kisah Ijichi. Saga hadir bukan sebagai polisi yang menginterogasi, jaksa yang menuntut, atau wartawan yang mengejar sensasi. Ia adalah dokter yang mendengarkan pasiennya.
Dalam percakapan menjelang akhir hidup, Ijichi memperoleh ruang untuk menuturkan masa lalunya dengan kata-katanya sendiri. Melalui rekaman itu, pengalaman pribadinya menjadi dokumen yang dapat dibaca oleh orang lain.
Di sini terdapat pelajaran mengenai pentingnya mendengarkan. Tidak semua kisah harus diterima begitu saja sebagai kebenaran mutlak, tetapi setiap kisah dapat membantu kita memahami bagaimana seseorang melihat dirinya, dunia, dan keputusan yang telah diambilnya.
Kadang-kadang, memahami seseorang dimulai dengan kesediaan mendengarkan. Menilai tindakannya dengan jernih tetap menjadi langkah berikutnya.
- Masa lalu tidak bisa diubah, tetapi cara kita memahaminya bisa berubah
Menjelang akhir hayat, Ijichi tidak dapat mengulang masa mudanya dan mengambil keputusan yang berbeda. Ia hanya dapat mengingat serta menceritakannya.
Hal itu mengingatkan kita bahwa penyesalan tidak selalu memberikan kesempatan untuk memperbaiki kejadian yang telah berlalu. Namun, pengakuan terhadap masa lalu dapat menjadi sumber pembelajaran bagi orang lain.
Kita tidak harus menunggu sampai usia senja untuk mengevaluasi pilihan hidup. Lebih baik mengoreksi arah ketika masih ada waktu daripada menunggu seluruh perjalanan selesai untuk menyadari bahwa kita telah menuju tempat yang salah.
Tetap Menarik
Meski berlatar Jepang pada paruh pertama abad ke-20, Confessions of a Yakuza tetap menarik bagi pembaca masa kini karena mengangkat persoalan yang tidak lekang oleh waktu: hubungan antara individu dan kelompok, kekuasaan dan kesetiaan, kebebasan dan konsekuensi, serta jarak antara citra diri dan kenyataan.
Buku ini juga mengingatkan kita bahwa kejahatan terorganisasi tidak cukup dipahami melalui sosok penjahat yang eksentrik. Ia perlu dilihat sebagai bagian dari suatu lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya. Memahami lingkungan itu membantu kita membaca bagaimana kelompok kriminal dapat tumbuh dan mempertahankan pengaruhnya.
Kisah ini pun relevan dalam era ketika publik mudah terpikat pada figur yang berani, keras, dan tampak berkuasa. Kita sering mengagumi ketegasan tanpa bertanya apa yang sedang ditegakkan, serta memuji loyalitas tanpa memeriksa kepada siapa loyalitas itu diberikan.
Padahal, keberanian tanpa tanggung jawab dapat menjadi kesembronoan. Kesetiaan tanpa prinsip dapat berubah menjadi keterlibatan dalam kesalahan. Dan kekuasaan tanpa akuntabilitas berisiko membuat orang lain membayar harga atas ambisi seseorang.
Pengakuan Bukan Pembenaran
Confessions of a Yakuza adalah buku yang layak dibaca oleh mereka yang menyukai memoar, sejarah sosial Jepang, dan kisah kriminal yang lebih menekankan manusia daripada sensasi. Junichi Saga berhasil menghadirkan kesaksian seorang mantan bos yakuza dengan kekayaan pengalaman yang membuat pembaca seolah-olah sedang duduk mendengarkan seorang lelaki tua membuka kembali lorong-lorong ingatannya.
Buku ini tidak menawarkan kisah pertobatan yang apik, apalagi rumus sederhana tentang bagaimana seorang penjahat berubah menjadi orang baik. Daya tariknya justru terletak pada ketidaksempurnaan tokoh yang diceritakannya.
Ijichi dapat dipahami tanpa harus dibenarkan. Ia dapat dikenang tanpa harus dijadikan teladan. Dan kehidupannya dapat dipelajari tanpa perlu meromantisasi dunia kriminal yang membentuknya.
Pada akhirnya, ada ironi yang menarik: lelaki yang menghabiskan sebagian hidupnya di dunia bawah tanah meninggalkan kesaksian yang justru membuat kita memikirkan persoalan mendasar tentang kehidupan manusia.
Kita belajar bahwa seseorang tidak hanya dibentuk oleh niatnya, tetapi juga oleh pilihan dan tindakan yang diambilnya. Bahwa kesetiaan tidak selalu berarti kebaikan. Dan bahwa keberanian yang paling penting bukanlah keberanian untuk ditakuti orang lain, melainkan keberanian untuk mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas akibatnya.
Sebab, jika hidup adalah sebuah perjudian, seperti dunia yang dijalani Ijichi, barangkali ada satu hal yang patut kita ingat: kita tidak selalu bisa memilih kartu yang dibagikan, tetapi kita tetap harus bertanggung jawab atas cara kita memainkannya.
Dan berbeda dari meja judi, dalam kehidupan nyata, orang yang kalah bukan selalu orang yang kehilangan uang. Kadang-kadang, yang paling mahal justru kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli kembali: waktu, kepercayaan, dan kesempatan untuk menjalani hidup dengan cara yang berbeda.***
ARP, Oktober 2026




