Resensi Buku: An Earth Saving Revolution II

Revolusi Bumi, Mikroorganisme, dan Harapan agar Manusia Tidak Kalah oleh Sampahnya Sendiri

Penulis: Teruo Higa | Judul: An Earth Saving Revolution II, EM–Amazing Applications to Agricultural, Environtmental, and Medical Problems | Penerbit: Sunmark Publishing, Tokyo | Tahun Terbit: Edisi Bahasa Inggris, 1998 | Tebal: 367 halaman

Ada sebuah ironi dalam kehidupan modern: manusia mampu menciptakan teknologi untuk menjelajahi Mars, tetapi sering kebingungan menghadapi gunungan sampah di halaman belakang rumah. Kita dapat mengirim satelit ke orbit, tetapi urusan mengembalikan kesuburan tanah yang rusak akibat praktik pertanian kita sendiri masih membutuhkan kerja keras, penelitian, dan kesabaran.

Di tengah persoalan itulah, Teruo Higa, ilmuwan pertanian asal Jepang, menawarkan sebuah gagasan yang terdengar sederhana, sekaligus ambisius: bagaimana jika mikroorganisme tertentu dapat dimanfaatkan untuk membantu memperbaiki hubungan manusia dengan alam?

Gagasan tersebut menjadi pokok buku An Earth Saving Revolution II: EM—Amazing Applications to Agricultural, Environmental, and Medical Problems, yang diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris pada 1998 dengan terjemahan Anja Kanal. Buku ini mengajak pembaca memasuki dunia Effective Microorganisms (EM), teknologi berbasis campuran mikroorganisme yang dikembangkan Higa dan ditawarkan sebagai salah satu pendekatan untuk menghadapi persoalan pertanian, lingkungan, dan kesehatan.

Judulnya memang terdengar seperti pengumuman bahwa revolusi penyelamatan Bumi tinggal menunggu peluncuran produk. Namun, setelah hampir tiga dekade, buku ini justru menarik dibaca bukan hanya karena optimisme ilmiahnya, melainkan juga karena pertanyaan yang ditinggalkannya: seberapa jauh manusia dapat memanfaatkan proses alami untuk mengatasi kerusakan yang dibuatnya sendiri?

Dan, tentu saja, apakah mikroorganisme sungguh dapat membantu menyelamatkan Bumi, atau kita sekadar berharap terlalu banyak kepada makhluk yang bahkan tidak terlihat tanpa mikroskop?

 

Ketika Mikroorganisme Diberi Tugas Menyelamatkan Dunia

Pokok pemikiran Higa berangkat dari kenyataan bahwa kehidupan di Bumi sangat bergantung pada aktivitas organisme berukuran mikroskopis. Bakteri, ragi, dan kelompok mikroorganisme lainnya memainkan peran penting dalam penguraian bahan organik, perputaran unsur hara, fermentasi, serta berbagai proses biologis yang menopang ekosistem.

Higa mengembangkan teknologi EM dengan memadukan sejumlah mikroorganisme yang dianggap bermanfaat dan dapat hidup berdampingan. Dalam pendekatannya, campuran tersebut diharapkan membantu mengarahkan proses biologis menuju kondisi yang lebih menguntungkan bagi tanah, tanaman, dan lingkungan.

Buku kedua ini memperluas pembahasan penerapan EM ke dalam tiga bidang utama, sesuai dengan sub-judulnya.

Pertama, pertanian. Higa menawarkan pendekatan yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk mendukung penguraian bahan organik, pembuatan kompos, pengelolaan kesuburan tanah, dan budidaya tanaman. Gagasan dasarnya adalah bahwa pertanian tidak semestinya hanya berurusan dengan apa yang diberikan kepada tanaman, tetapi juga dengan kehidupan biologis yang berlangsung di dalam tanah.

Tanah, dalam perspektif ini, bukan sekadar media tempat akar menancap. Ia adalah ekosistem yang sibuk bekerja, meskipun tidak pernah meminta uang lembur.

Kedua, lingkungan. Teknologi EM dibahas dalam kaitannya dengan pengolahan sampah organik, fermentasi, pengelolaan limbah, serta upaya memperbaiki kondisi lingkungan. Pendekatan tersebut berangkat dari kemungkinan memanfaatkan proses biologis untuk membantu mengolah bahan yang selama ini dipandang sebagai buangan.

Gagasan ini terasa penting karena masyarakat modern cenderung menganggap sampah selesai menjadi masalah begitu diangkut dari depan rumah. Padahal, sampah tidak menghilang; ia hanya berpindah alamat.

Ketiga, kesehatan dan kedokteran. Buku ini turut membawa gagasan EM ke ranah medis. Di sinilah pembaca perlu bersikap lebih kritis. Pembahasan mengenai potensi biologis mikroorganisme tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa suatu campuran EM efektif untuk mencegah atau mengobati penyakit pada manusia. Klaim medis memerlukan bukti klinis yang memadai, bukan semata-mata analogi bahwa sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan pasti bermanfaat pula bagi tubuh manusia.

Secara keseluruhan, buku ini mempromosikan pandangan bahwa pemanfaatan proses biologis dapat menjadi bagian dari solusi berbagai persoalan yang saling berkaitan. Pertanian, lingkungan, dan kesehatan tidak diperlakukan sebagai pulau-pulau terpisah, melainkan sebagai bidang yang bertemu dalam satu sistem kehidupan.

Penting dicatat, artikel ini ini merangkum pokok gagasan dan ruang lingkup buku berdasarkan informasi bibliografis serta deskripsi teknologi EM yang tersedia. Ini bukan klaim bahwa setiap aplikasi yang diajukan Higa telah terbukti efektif secara ilmiah.

 

Teruo Higa dan Revolusinya

Higa adalah ilmuwan pertanian Jepang yang dikenal karena mengembangkan teknologi Effective Microorganisms. Ia menempuh pendidikan di bidang pertanian dan meraih gelar doktor dari Kyushu University, kemudian berkiprah sebagai akademisi di University of the Ryukyus, Okinawa.

Perhatiannya pada mikroorganisme berangkat dari pertanyaan tentang bagaimana proses biologis dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertanian dan pengelolaan lingkungan.

Dalam gagasan Higa, mikroorganisme bukan sekadar penghuni dunia yang terlalu kecil untuk mendapat perhatian manusia. Makhluk ini merupakan bagian dari mesin biologis yang membuat kehidupan terus berjalan. Manusia mungkin menguasai traktor, pupuk, pestisida, dan berbagai perangkat pertanian modern, tetapi tetap bergantung pada proses-proses biologis yang tidak dapat diperintah sesuka hati.

Di sinilah letak daya tarik pemikirannya: alih-alih selalu memaksakan solusi melalui intervensi kimia dan mekanis, manusia diajak mempelajari serta memanfaatkan kemampuan alam yang sudah tersedia.

Namun, ada perbedaan penting antara gagasan yang masuk akal secara ekologis dan teknologi tertentu yang terbukti berhasil. Bahwa mikroorganisme berperan penting dalam kesuburan tanah merupakan pengetahuan ilmiah yang mapan. Bahwa satu campuran mikroorganisme tertentu dapat menghasilkan semua manfaat yang dijanjikan untuk berbagai persoalan merupakan klaim berbeda, yang harus diuji satu per satu.

 

Hubungannya dengan An Earth Saving Revolution I

Buku pertama merupakan pengantar terhadap pemikiran Higa tentang teknologi EM dan potensinya untuk membantu mengatasi persoalan pertanian serta lingkungan. Edisi bahasa Inggrisnya diterjemahkan oleh Anja Kanal dan diterbitkan oleh Sunmark pada 1996.

Jika volume pertama dapat dibaca sebagai pengenalan terhadap gagasan dan dasar pemikiran EM, volume kedua memperluas pembicaraan ke berbagai penerapan praktis, termasuk bidang kesehatan dan kedokteran.

Keduanya dapat dibaca sebagai dua bagian dari satu proyek intelektual. Buku pertama memperkenalkan kemungkinan sebuah teknologi biologis, sementara buku kedua membawa kemungkinan tersebut ke wilayah penerapan yang lebih luas.

Ada perkembangan ambisi yang menarik di sini. Mula-mula, pembaca diajak memikirkan tanah dan pertanian. Kemudian, cakupannya berkembang menjadi lingkungan dan kesehatan. Seolah-olah setelah mikroorganisme selesai membantu mengurus kebun, mereka mendapat surat tugas baru untuk menyelesaikan persoalan dunia.

Akan tetapi, perluasan cakupan tidak otomatis berarti peningkatan kekuatan bukti. Setiap penerapan membutuhkan pengujian tersendiri. Mikroorganisme yang membantu proses fermentasi belum tentu efektif mengatasi pencemaran air, dan keberhasilan dalam pengomposan tidak membuktikan khasiat medis.

Justru dengan membaca kedua buku secara beriringan, pembaca dapat membedakan antara visi besar Higa, cara menerapkannya, dan pertanyaan ilmiah yang masih harus dijawab.

 

Masihkah Relevan?

Buku terbitan 1998 mungkin sudah cukup berumur untuk disebut sebagai penghuni rak klasik. Namun, persoalan yang dibicarakannya belum pensiun dari kehidupan manusia.

  1. Pertanian berkelanjutan bukan lagi wacana pinggiran

Dunia pertanian menghadapi tekanan untuk mempertahankan produktivitas sekaligus mengelola tanah, air, dan penggunaan input pertanian secara lebih bertanggung jawab. Gagasan memanfaatkan proses biologis tetap relevan, terutama dalam pengomposan, daur ulang bahan organik, dan pengembangan pupuk hayati.

Penelitian mengenai mikroorganisme yang mendukung pertumbuhan tanaman terus berkembang. Namun, hasilnya dapat berbeda menurut jenis mikroorganisme, tanaman, kondisi tanah, iklim, dan cara penerapan. Kajian ilmiah terbaru juga menyoroti kesenjangan antara hasil penelitian di laboratorium dan keberhasilan di lapangan.

  1. Krisis sampah membutuhkan solusi dari sumbernya

Pengelolaan sampah organik, pengomposan, dan pemanfaatan kembali bahan yang masih berguna merupakan bagian penting dari upaya mengurangi beban tempat pemrosesan akhir. Gagasan Higa mengingatkan bahwa limbah organik dapat diperlakukan sebagai sumberdaya yang berpotensi dimanfaatkan, bukan semata-mata sesuatu yang harus dibuang.

Meski demikian, penggunaan EM bukan pengganti sistem pengumpulan sampah yang baik, pengolahan limbah yang memenuhi standar, atau pengawasan pencemaran. Mikroorganisme tidak bisa menggantikan tata kelola yang buruk hanya karena mereka rajin bekerja.

  1. Manusia mulai kembali menghargai kehidupan yang tidak terlihat

Salah satu pelajaran paling berharga dari buku ini adalah pentingnya melihat tanah dan lingkungan sebagai ekosistem yang hidup. Kesehatan tanah tidak cukup dinilai hanya dari warna tanaman atau banyaknya hasil panen. Struktur tanah, aktivitas biologis, ketersediaan unsur hara, dan pengelolaan bahan organik juga perlu diperhatikan.

Perspektif ini sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap kesehatan tanah dan pertanian regeneratif. Akan tetapi, prinsip ekologis tersebut tidak harus selalu bergantung pada satu merek atau satu formulasi teknologi.

  1. Buku ini mengingatkan pentingnya membedakan harapan dan bukti

Popularitas solusi yang disebut alami sering kali membuat orang menganggapnya otomatis aman, murah, dan efektif. Padahal, solusi biologis juga memerlukan pengujian, pengawasan, dan evaluasi.

Sebuah penelitian lapangan selama empat tahun di Eropa Tengah, misalnya, tidak menemukan peningkatan hasil panen atau perbaikan sejumlah parameter biologis tanah yang dapat dikaitkan secara khusus dengan inokulum EM yang diuji. Sebagian efek yang terlihat berkaitan dengan masukan nutrisi dari bahan pembawanya.

Temuan itu tidak membuktikan bahwa semua produk atau penggunaan EM pasti tidak bermanfaat. Namun, temuan tersebut memperlihatkan mengapa klaim teknologi perlu diuji berdasarkan hasil yang terukur, bukan berdasarkan besarnya harapan.

Ketika Optimisme Bertemu Laboratorium

Buku Higa memiliki satu kekuatan utama: ia mengajak pembaca memikirkan solusi yang berangkat dari proses alami, bukan semata-mata dari teknologi yang membutuhkan energi, bahan kimia, dan investasi besar. Pendekatan ini menawarkan sudut pandang yang berguna bagi petani, pegiat lingkungan, dan siapa pun yang ingin memahami hubungan antara aktivitas biologis dan keberlanjutan. Akan tetapi, ada tiga hal yang patut diperhatikan pembaca masa kini.

Pertama, klaim manfaat EM harus dinilai berdasarkan bukti spesifik. Campuran mikroorganisme dapat memberikan hasil berbeda pada kondisi yang berbeda pula. Penelitian yang membandingkan EM hidup dengan kontrol yang telah disterilkan juga menunjukkan pentingnya memisahkan pengaruh mikroorganisme dari pengaruh nutrisi yang terkandung dalam bahan pembawanya.

Kedua, penerapan pada bidang medis memerlukan kehati-hatian lebih besar. Pembaca tidak seharusnya menggunakan uraian mengenai EM dalam buku ini sebagai dasar mengganti pengobatan, mengabaikan diagnosis, atau menganggap produk EM sebagai terapi yang telah terbukti. Klaim kesehatan harus dinilai melalui penelitian klinis yang relevan, dengan memperhatikan keamanan, dosis, cara penggunaan, dan kondisi pasien.

Ketiga, solusi alami bukan berarti solusi tanpa risiko atau tanpa keterbatasan. Sebuah teknologi perlu dinilai berdasarkan komposisi, kualitas produk, konsistensi hasil, biaya, dan dampaknya terhadap lingkungan. Kata alami bukan sertifikat keberhasilan yang otomatis berlaku untuk segala keadaan.

Di sinilah pembaca yang cerdas perlu mengambil posisi yang seimbang. Kita tidak perlu menolak gagasan Higa hanya karena beberapa klaimnya membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Sebaliknya, kita juga tidak perlu menerima seluruh klaimnya hanya karena gagasan itu terdengar ramah lingkungan.

Ilmu pengetahuan tidak kehilangan kewibawaannya ketika mengakui ketidakpastian. Justru di situlah kekuatannya.

 

Pantas Dibaca, Tapi…

An Earth Saving Revolution II menarik karena menawarkan cara pandang yang luas terhadap persoalan pertanian, lingkungan, dan kesehatan. Higa mengingatkan bahwa kehidupan manusia bergantung pada proses biologis yang sering kali luput dari perhatian, serta bahwa pemanfaatan proses tersebut dapat membuka peluang untuk mengembangkan praktik yang lebih berkelanjutan.

Kekuatan buku ini terletak pada keberaniannya menghubungkan bidang-bidang yang biasanya dibahas secara terpisah. Tanah, sampah, tanaman, dan kesehatan manusia ditempatkan dalam satu percakapan besar mengenai hubungan manusia dengan alam.

Kelemahannya, jika dibaca dengan standar ilmiah masa kini, adalah bahwa optimisme terhadap teknologi EM perlu dipisahkan dari bukti empiris yang mendukung setiap klaim penerapannya. Tidak semua manfaat yang dikemukakan dalam sebuah buku pengantar teknologi dapat dianggap sebagai kesimpulan ilmiah yang sudah final.

Namun, bukankah buku yang baik tidak selalu harus memberikan jawaban terakhir? Terkadang, buku yang baik justru memberi kita pertanyaan yang lebih tepat.

Dalam hal ini, pertanyaannya bukan apakah EM akan menyelamatkan Bumi sendirian, melainkan bagaimana manusia dapat memanfaatkan proses biologis secara bertanggung jawab, mengurangi kerusakan lingkungan, dan menguji solusi berdasarkan hasil nyata.

Tentu saja, menyelamatkan Bumi tidak bisa diserahkan kepada mikroorganisme saja. Mereka mungkin mampu membantu menguraikan bahan organik, tetapi belum ada alasan untuk berharap mereka dapat menguraikan keserakahan, memperbaiki regulasi lingkungan yang buruk, atau membujuk manusia agar tidak membuang sampah ke sungai. Untuk tiga pekerjaan terakhir itu, manusia masih harus bekerja sendiri.

Buku ini layak dibaca sebagai dokumen pemikiran lingkungan dan pengantar teknologi EM, terutama bagi pembaca yang tertarik pada pertanian berkelanjutan, pengolahan limbah organik, dan pemanfaatan mikroorganisme. Bacalah dengan pikiran terbuka, tetapi tetap dengan sikap kritis. Ambil inspirasi dari visinya, pelajari penerapannya, lalu periksa bukti ilmiahnya. Sebab, menyelamatkan Bumi memang membutuhkan revolusi. Hanya saja, revolusi yang berhasil bukanlah revolusi yang paling lantang menjanjikan keajaiban, melainkan yang mampu membuktikan manfaatnya.

Dan jika pada akhirnya mikroorganisme dapat membantu membuat tanah lebih sehat dan sampah lebih berguna, itu kabar baik. Setidaknya, ada makhluk hidup yang bersedia membereskan kekacauan kita tanpa harus diangkat menjadi menteri lingkungan hidup.***

ARP, Oktober 2026

Bacaan Pendukung:

Mayer, J., Scheid, S., Widmer, F., Fließbach, A., & Oberholzer, H.-R. (2010). How effective are ‘Effective microorganisms® (EM)’? Results from a field study in temperate climate. Applied Soil Ecology, 46(2), 230–239. Website

 

Dapatkan Artikel Terbaru dari Kami