Penulis: Paulo Coelho | Judul: Hippie | Penerjemah: Eric M. B. Becker | Penerbit: Alfred A. Knopf, New York | Tahun Terbit: 2018 | Tebal: 284 halaman
Ada masa ketika orang muda pergi jauh untuk mencari dirinya sendiri. Mereka meninggalkan rumah, pekerjaan, aturan sosial, bahkan kadang-kadang akal sehat, lalu berangkat dengan ransel, rambut gondrong, celana ‘cut-bray’ atau gombrong di bagian bawah, dan keyakinan bahwa dunia bisa diselamatkan dengan cinta.
Hari ini, perjalanan semacam itu mungkin cukup dilakukan dengan membeli tiket pesawat murah, memotret diri di depan pura, lalu mengunggahnya ke Instagram dengan takarir: Sedang mencari jati diri.
Tetapi pada 1970, mencari diri sendiri jauh lebih merepotkan. Tidak ada Google Maps. Tidak ada tiket.com. Tidak ada Wi-Fi di bus. Dan kalau tersesat, kita tidak bisa berkata: “Siri, bawa saya ke Kathmandu.” Kita benar-benar harus bertanya kepada rumput, eh, manusia.
Di dunia itulah Paulo Coelho menempatkan Hippie, novel yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Portugis pada 2018 dan kemudian hadir dalam edisi Amerika berbahasa Inggris yang diterbitkan Alfred A. Knopf, dengan terjemahan Eric M. B. Becker. Buku ini merupakan novel yang sangat dekat dengan pengalaman hidup Coelho sendiri.
Dan seperti banyak karya Coelho, perjalanan geografis dalam buku ini sebenarnya hanyalah alasan untuk melakukan perjalanan yang jauh lebih sulit: perjalanan ke dalam diri sendiri.
Dari Amerika Selatan ke Amsterdam
Tokoh utama novel ini bernama Paulo, seorang pemuda Brasil, kurus, berjanggut, berambut panjang, bercita-cita menjadi penulis dan sedang mencari makna hidup. Ia melakukan perjalanan melintasi Amerika Selatan, termasuk Bolivia, Peru, Chili, dan Argentina, sebelum akhirnya menuju Amsterdam.
Amsterdam pada September 1970 menjadi semacam pintu gerbang menuju dunia alternatif. Di Dam Square, Paulo bertemu Karla, perempuan Belanda yang sedang mencari sesuatu yang bahkan lebih sulit ditemukan daripada tiket bus murah: seorang teman perjalanan menuju Nepal.
Tujuannya adalah Kathmandu.
Transportasinya adalah Magic Bus.
Penumpangnya sekumpulan manusia muda yang sama-sama percaya bahwa dunia lama sudah terlalu membosankan dan bahwa pencerahan spiritual mungkin bisa ditemukan dengan perjalanan panjang, percakapan filosofis, pengalaman seksual, musik, kebebasan, dan, tentu saja, beberapa senyawa yang mungkin tidak direkomendasikan oleh dokter keluarga.
Paulo akhirnya bergabung dengan perjalanan tersebut.
Maka dimulailah perjalanan melintasi Eropa menuju Timur: Austria, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, dan akhirnya menuju Kathmandu.
Kalau dibuat dengan logika industri pariwisata modern, perjalanan itu akan terasa seperti paket tur yang sangat buruk.
Tidak ada jadwal perjalanan yang jelas.
Tidak ada hotel bintang lima.
Tidak ada layanan sarapan di tempat menginap
Dan kemungkinan besar, tidak ada colokan listrik.
Namun justru di situlah Coelho menemukan inti ceritanya.
Perjalanan yang sebenarnya bukan tentang Kathmandu
Hippie bukan novel perjalanan dalam pengertian konvensional. Tujuan geografisnya memang Kathmandu, tetapi tujuan spiritualnya adalah pemahaman tentang diri sendiri.
Karla ingin menemukan kebebasan dan pencerahan. Paulo sedang mencari arah hidup. Para penumpang Magic Bus membawa keyakinan, luka, obsesi dan fantasi masing-masing.
Dengan kata lain, bus itu bukan sekadar kendaraan. Ia adalah semacam laboratorium manusia.
Orang-orang asing duduk berdekatan dalam perjalanan panjang, sehingga mereka tidak punya banyak pilihan selain berbicara. Dan karena tidak ada Netflix untuk mengalihkan perhatian, pembicaraan akhirnya sampai pada hal-hal yang biasanya membuat manusia mabuk: cinta, agama, seks, kematian, kebebasan, Tuhan, dan makna hidup.
Coelho memang sangat menyukai wilayah semacam ini.
Dalam banyak karyanya, perjalanan fisik hampir selalu menjadi metafora perjalanan spiritual. Bedanya, kali ini ia tidak perlu terlalu banyak berimajinasi karena bahan dasarnya berasal dari masa mudanya sendiri.
Coelho pernah menjelaskan bahwa Hippie terinspirasi perjalanan yang ia lakukan pada masa mudanya, termasuk perjalanan bersama seorang perempuan bernama Karla. Ia melihat generasi hippie bukan sekadar sebagai kelompok anak muda yang menyukai seks, narkoba dan musik, melainkan sebagai generasi yang mempertanyakan tatanan sosial dan mencari bentuk kehidupan yang lebih bebas. Dan ini penting.
Sebab kalau hippie hanya soal rambut panjang, pakaian warna-warni dan menghisap sesuatu sambil memandang bulan, tentu gerakan itu tidak akan meninggalkan warisan budaya sebesar yang kita kenal sekarang.
Hippie: idealisme atau sekadar liburan panjang?
Di sinilah buku ini menjadi menarik sekaligus problematis.
Coelho melihat gerakan hippie dengan nostalgia. Ia mengingat sebuah generasi yang berani mempertanyakan kemapanan, menolak perang, mengejar kebebasan, mengeksplorasi spiritualitas dan mencoba mencari alternatif terhadap kehidupan yang ditawarkan masyarakat.
Buku ini, dalam banyak hal, merupakan penghormatan terhadap idealisme tersebut.
Tetapi nostalgia memiliki satu penyakit bawaan: ia cenderung membuat masa lalu terlihat lebih indah daripada kenyataannya.
Dan Hippie kadang jatuh ke dalam perangkap itu.
Beberapa karakter berbicara seperti mahasiswa filsafat tingkat satu yang baru menemukan eksistensialisme dan merasa wajib menjelaskan makna kehidupan kepada semua orang di dalam bus.
Ada percakapan yang terasa mendalam. Tetapi ada pula yang terasa seperti:
“Apakah jiwa memiliki kebebasan?” “Ya.”
“Apakah kebebasan adalah jiwa?” “Tidak.”
“Lalu apa itu jiwa?”
Dan pembaca mulai bertanya: “Berapa kilometer lagi kita sampai?”
Publisher’s Weekly bahkan menilai Coelho tidak selalu berhasil membuat pembaca benar-benar masuk ke dalam pengalaman dan kehidupan karakter-karakternya. Menurut ulasan tersebut, beberapa percakapan dan perjalanan sampingan menarik, tetapi pembaca yang mencari karakter yang lebih kompleks dan imersif, mungkin akan kecewa.
Kritik itu cukup beralasan. Coelho lebih tertarik pada gagasan daripada psikologi karakter yang rumit. Ia ingin kita merenung. Bukan selalu ingin kita bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi di kepala tokoh ini?”
Paulo dan Karla: cinta di tengah perjalanan
Hubungan Paulo dan Karla menjadi jantung emosional novel.
Karla menginginkan seorang teman perjalanan yang bersedia menemaninya menuju Nepal. Paulo pada awalnya tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang dicari Karla.
Hubungan mereka kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih rumit: antara persahabatan, ketertarikan, cinta dan kebutuhan untuk menemukan kebebasan masing-masing.
Karla bukan sekadar perempuan yang ditemui Paulo dalam perjalanan. Ia mewakili salah satu pertanyaan utama novel: Bisakah kita mencintai seseorang tanpa menjadikannya milik kita?
Pertanyaan ini terasa sederhana, tetapi justru sangat modern.
Di zaman ketika hubungan manusia bisa dimulai dengan swipe right dan berakhir dengan unfollow, pertanyaan tentang kebebasan dalam cinta tetap relevan. Mungkin bahkan lebih relevan daripada 1970.
Bedanya, anak muda zaman sekarang tidak perlu naik Magic Bus ke Kathmandu untuk patah hati. Cukup buka WhatsApp.
Kekuatan sekaligus kelemahan Coelho
Kekuatan terbesar Coelho adalah kemampuannya membuat gagasan-gagasan filosofis menjadi mudah dicerna.
Ia tidak menulis seperti filsuf yang sedang menyusun tesis. Namun, ia menulis seperti seseorang yang duduk di sebelah kita dalam perjalanan panjang dan berkata: “Menurutmu, sebenarnya kita hidup untuk apa?”
Masalahnya, setelah itu ia bisa terus berbicara selama 20 halaman. Di sinilah pembaca akan menemukan dua wajah Hippie.
Bagi penggemar Coelho, ini adalah sebuah perjalanan spiritual yang menyenangkan. Bagi pembaca yang menginginkan plot kuat dan karakter berlapis, novel ini mungkin terasa terlalu banyak mengobrol dan terlalu sedikit menggali.
Kirkus Reviews menggambarkannya sebagai semacam kumpulan impresi perjalanan menuju Kathmandu dan menyebutnya sebagai nostalgia terhadap era 1960-an yang penuh eksperimen.
Dengan kata lain, jangan membaca Hippie dengan harapan mendapatkan thriller.
Tidak ada pembunuhan berantai. Tidak ada plot twist yang membuat kita menjatuhkan buku. Tidak ada detektif.
Yang ada adalah manusia-manusia muda yang berusaha memahami kehidupan sambil menempuh perjalanan yang sangat panjang.
Kalau itu terdengar membosankan, mungkin memang demikian.
Tetapi kalau kita bersedia ikut duduk di dalam bus itu, perlahan-lahan kita akan menemukan sesuatu.
Eric M. B. Becker dan bahasa yang mengalir
Dalam edisi Inggris, Eric M. B. Becker menerjemahkan karya Coelho dari bahasa Portugis. Edisi Amerika pertama diterbitkan Alfred A. Knopf pada 2018, dengan sekitar 284–304 halaman tergantung pencatatan edisinya.
Terjemahan Becker terasa cukup lancar dan mempertahankan kualitas bahasa Coelho yang sederhana, reflektif dan mudah didekati.
Ini penting karena kekuatan Coelho memang bukan pada permainan bahasa yang rumit. Ia bukan tipe penulis yang ingin membuat pembaca membuka kamus setiap tiga halaman.
Kalimat-kalimatnya justru bekerja karena kesederhanaannya. Ia seperti teman yang berkata: “Kita mungkin tidak tahu ke mana hidup membawa kita.”
Lalu kita mengangguk. Kemudian dia berkata: “Tapi bukankah ketidaktahuan itu bagian dari perjalanan?”
Kita mengangguk lagi. Lima menit kemudian kita mulai curiga bahwa teman ini mungkin terlalu banyak membaca Coelho.
Apakah Hippie masih relevan?
Justru di sinilah novel ini menjadi lebih menarik jika dibaca sekarang. Dunia kita mungkin sudah sangat berbeda dari 1970.
Hippie mencari kebebasan dari sistem. Kita sekarang mencari kebebasan dari notifikasi.
Mereka takut menjadi bagian dari masyarakat yang terlalu seragam.Kita takut menjadi satu-satunya orang yang tidak memiliki akun Instagram.
Mereka melakukan perjalanan untuk mencari diri sendiri. Kita melakukan perjalanan sambil membawa tiga kamera, power bank dan koneksi 5G.
Namun pertanyaan dasarnya tetap sama:
Siapa saya?
Apa yang sebenarnya saya cari?
Apakah hidup yang dianggap sukses oleh masyarakat benar-benar hidup yang saya inginkan?
Dan mungkin yang paling penting: Berapa banyak dari keputusan hidup saya yang benar-benar saya pilih sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Hippie lebih dari sekadar nostalgia terhadap generasi 1960-an dan 1970-an. Buku ini mengingatkan bahwa teknologi boleh berubah, mode boleh berubah, transportasi boleh berubah, tetapi kegelisahan manusia terhadap makna hidup ternyata sangat sulit diperbarui.
Akhirnya…
Hippie bukan karya terbaik Paulo Coelho.
Bahkan pembaca yang mengharapkan kedalaman psikologis seperti novel-novel besar mungkin akan menemukan buku ini terlalu sederhana, terlalu reflektif, dan sesekali terlalu gemar berkhotbah.
Namun buku ini mempunyai satu kualitas yang sulit diabaikan: ketulusan.
Coelho seperti sedang membuka album foto masa mudanya, lalu berkata kepada pembaca: “Beginilah saya ketika masih muda. Saya belum tahu apa-apa. Saya ingin pergi jauh. Saya ingin mencari sesuatu. Saya belum tahu apa sesuatu itu.”
Dan mungkin itulah yang membuat buku ini menarik.
Pada akhirnya, Hippie bukan benar-benar tentang hippie. Buku ini berkisah tentang anak muda yang belum menemukan dirinya sendiri.
Dan kalau dipikir-pikir, bukankah hampir semua manusia pernah menjadi anak muda semacam itu?
Sebagian pergi ke Kathmandu.
Sebagian kuliah di luar kota.
Sebagian bergabung dengan band.
Sebagian membaca buku filsafat.
Sebagian membeli sepeda mahal.
Dan sebagian lagi membuat akun media sosial baru setiap kali hidup terasa tidak sesuai harapan.
Semua sedang mencari hal yang sama: sebuah jawaban tentang bagaimana seharusnya hidup dijalani.
Barangkali Coelho tidak memberikan jawabannya. Ia hanya mengajak kita naik bus.
Dan seperti perjalanan terbaik dalam hidup, kita tidak pernah benar-benar tahu di mana kita akan turun.
Catatan: Jangan membaca buku ini ketika sedang terburu-buru. Hippie adalah buku perjalanan. Dan perjalanan, seperti cinta dan mencari makna hidup, akan terasa sangat panjang kalau kita terus bertanya, “Kapan sampai?”***
ARP, Agustus 2026




