Agroforestri Jadi Jalan Tengah Pertanian Regeneratif, Tantangan Terbesarnya Ada pada Adopsi Petani

Praktik pertanian regeneratif semakin mendapat perhatian sebagai salah satu strategi untuk menjaga produktivitas pertanian

JAKARTA, CANDA BISNIS — Praktik pertanian regeneratif semakin mendapat perhatian sebagai salah satu strategi untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus memulihkan kualitas lingkungan. Namun, keberhasilan pendekatan ini bukan semata ditentukan oleh teknologi atau model budidaya, melainkan juga oleh kesiapan petani untuk mengubah pola tanam yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Persoalan tersebut mengemuka dalam SNV Impact Forum 2026 bertajuk Regenerative Agriculture, yang diselenggarakan pada Kamis, 16 Juli 2026, di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Dalam forum tersebut, peneliti Landscape Alliance, Ni’matul Khasanah, memaparkan bahwa agroforestri merupakan salah satu praktik pertanian regeneratif yang mampu menjembatani kebutuhan peningkatan produktivitas dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem.

Menurut Ni’matul, pertanian regeneratif berfokus pada pemulihan keanekaragaman hayati tanah serta peningkatan kandungan bahan organik. Tujuannya adalah menciptakan lahan pertanian yang lebih sehat sehingga mampu meningkatkan penyerapan karbon, memperbaiki daya resap air, sekaligus meningkatkan kuantitas maupun kualitas hasil panen.

“Praktik ini tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga memperbaiki fungsi ekologis lahan,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa terdapat sejumlah praktik yang telah terbukti mendukung sistem pangan regeneratif, antara lain pengolahan tanah minimum (minimum tillage), penggunaan tanaman penutup tanah (cover cropping), pengomposan, integrasi tanaman dengan pepohonan melalui agroforestri, integrasi ternak, penggembalaan terkelola, hingga sistem silvopastur.

Lebih dari Sekadar Menanam Pohon

Dalam paparannya, Ni’matul menegaskan bahwa agroforestri bukan sekadar menanam pohon di lahan pertanian. Sistem ini merupakan integrasi berbagai komponen produksi dalam satu bentang lahan sehingga saling memberikan manfaat ekologis maupun ekonomi.

Pada tingkat petani, pepohonan dapat ditanam bersamaan dengan tanaman semusim untuk menghasilkan pangan, pakan ternak, kayu, bahan bakar, maupun sumber pendapatan lain. Sistem tersebut bahkan dapat dipadukan dengan peternakan dan perikanan dalam konsep agro-silvo-fishery-pastoral.

Sementara pada skala bentang alam, agroforestri menghubungkan kawasan pertanian dan kehutanan sehingga mampu menghasilkan jasa lingkungan yang lebih baik, sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Salah satu model yang banyak dikembangkan adalah agroforestri kelapa sawit, yaitu memadukan kebun sawit dengan tanaman pangan, tanaman tahunan, tanaman buah, tanaman kayu, maupun peternakan. Komposisi pohon sawit dalam sistem ini dapat berkisar antara 30 hingga 80 persen dari populasi kebun monokultur.

Model tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bentuk, mulai dari sistem barisan, petak terbagi, tanaman sisipan, tanaman pagar, hingga integrasi dengan tanaman pakan ternak dan peternakan.

Bukti Ilmiah: Tanah Lebih Sehat, Lahan Lebih Efisien

Ni’matul juga memaparkan sejumlah hasil penelitian yang memperkuat manfaat agroforestri.

Salah satunya menunjukkan bahwa cadangan karbon tanah pada kedalaman 0–50 sentimeter lebih tinggi pada sistem agroforestri kelapa sawit muda dibandingkan kawasan reboisasi maupun agroforestri tradisional. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penerapan praktik tanpa bakar, penggunaan pupuk organik, serta bertambahnya bahan organik dari hasil pemangkasan dan penyiangan.

Selain itu, simulasi komputer menunjukkan nilai Land Equivalent Ratio (LER) sistem agroforestri kelapa sawit berada di atas angka satu. Artinya, satu hektare agroforestri mampu menghasilkan produksi yang setara atau bahkan lebih tinggi dibandingkan sistem monokultur yang membutuhkan lahan lebih luas dengan pengelolaan yang sama.

“Nilai LER di atas satu menunjukkan efisiensi pemanfaatan lahan yang lebih baik dibandingkan monokultur,” ujarnya.

Monokultur Rentan, Perubahan Tidak Mudah

Meski demikian, Ni’matul mengakui bahwa penerapan agroforestri masih menghadapi tantangan besar.

Menurutnya, salah satu kelemahan sistem monokultur adalah meningkatnya kerentanan tanaman terhadap serangan penyakit serta menurunnya populasi mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam menjaga kesuburan lahan. Namun, mengubah praktik tersebut bukan perkara sederhana.

“Tantangan terbesar justru bagaimana praktik agroforestri ini dapat diadopsi oleh petani yang selama ini sudah terbiasa dengan sistem budidaya yang mereka jalankan,” katanya.

Pandangan itu diamini Syahrianto, Ketua Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhan Batu.

Ia mengatakan, banyak petani sawit swadaya masih kesulitan menerima pendekatan baru karena dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari usia petani yang relatif tidak muda, tingkat pendidikan yang masih rendah, hingga kecenderungan memilih cara budidaya yang dianggap paling praktis.

Di sisi lain, manfaat ekonomi pertanian regeneratif umumnya baru dirasakan dalam jangka menengah hingga panjang.

“Petani membutuhkan hasil yang lebih cepat, sementara keuntungan dari praktik regeneratif membutuhkan waktu,” ujarnya.

 

Jalan Tengah bagi Petani

Menanggapi persoalan tersebut, Ni’matul menawarkan pendekatan yang lebih realistis melalui model agroforestri yang tetap memberikan manfaat ekonomi dalam waktu relatif singkat.

Salah satunya adalah mengombinasikan kebun kelapa sawit dengan tanaman hortikultura seperti berbagai jenis sayuran. Dengan cara itu, petani tetap memperoleh pendapatan dalam hitungan bulan sembari menunggu manfaat jangka panjang dari peningkatan kualitas tanah dan produktivitas kebun sawit.

Pendekatan tersebut dinilai dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan ekonomi petani dan agenda besar pembangunan pertanian berkelanjutan.

Diskusi dalam SNV Impact Forum 2026 memperlihatkan bahwa transformasi menuju pertanian regeneratif tidak cukup hanya mengandalkan inovasi teknis. Keberhasilannya juga sangat bergantung pada kemampuan menghadirkan model usaha tani yang relevan dengan realitas sosial dan ekonomi petani. Agroforestri, dengan fleksibilitas dan manfaat gandanya, dinilai menjadi salah satu pilihan paling menjanjikan untuk mewujudkan tujuan tersebut.***

ARP, Juli 2026

 

Dapatkan Artikel Terbaru dari Kami