JAKARTA, CANDABISNIS — Saya beruntung sekali karena diberikan kesempatan berkali-kali memberikan pelatihan Salesmanship di perusahaan National Gobel yang dipimpin oleh Rachmat Gobel almarhum.
Saya pernah ngobrol dengan beliau beberapa kali juga. Beliau cerita tentang pelbagai masalah sumber daya manusia di perusahaan beliau. Sebuah masalah yang sangat kompleks yang disadari beliau. Bagai sebuah teka teki dengan berbagai jawaban. Begitu ungkapan beliau. Namun dari banyak percakapan dengan beliau ada satu sesi yang paling saya ingat. Saat itu kami bercanda tentang pencak silat.
Rachmat Gobel pernah menjadi ketua Pencak Silat dari tahun 1999 hinga 2003. Ilmu Bela diri warisan nenek moyang kita ini sendiri sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Jadi potensinya sangat luar biasa yang menggabungkan sendi olah raga, seni dan pendidikan mental. Dalam sesi canda itu kami ngalor ngidul bicara bagaimana memasarkan pencak silat.
Kita bicara banyak misalnya bagaimana merangsang penulis muda untuk membuat novel-novel pencak silat. Beliau ingin pencak silat bisa populer dan membuat orang Indonesia ketagihan membaca – seperti cerita-cerita Kho Ping Ho. Sambil tertawa saya bilang itu ide superbagus. Kita juga bicara jaman keemasan komik yang pernah kita alami bersama.
Saat itu saya bicara juga soal Lenong. Sebuah warisan budaya teater rakyat dari Betawi yang kental dengan Pencak Silat. Malah para pemain lenong, konon banyak yang memiliki dasar-dasar pencak silat dari aliran Cimande, dan Cikalong. Dan selalu saja di akhir cerita ada perkelahian antara sang jagoan dengan musuh-musuhnya. Semua di tata dengan gerakan Pencak Silat.
Dan Indonesia punya sejumlah cerita legendaris seperti Jampang, Si Pitung, Panji Tengkorak dan banyak lagi. Cerita ini bisa saja dibuat film dengan memanfaatkan latar belakang pencak silat. Belum lagi superhero Indonesia seperti Gundala dan Godam yang pernah sangat populer. Singkat cerita kita punya banyak bahan cerita yang menjadi aset dan warisan. Andaikata semuanya dikemas lagi dengan pencak silat, kami berdua yakin bahwa pencak silat bakal kembali mendunia. Berdua kami bercanda kalau Hongkong punya Kungfu – Indonesia punya pencak silat. Berdua kami berandai andai pencak silat kembali populer dan menjadi trend bela diri.
Namun sesi canda itu tidak berlanjut. Konon menurut sebuah artikel di Radar Palembang – Di kampung halamannya, Gorontalo, Rachmat Gobel dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap pembangunan daerah
Atas berbagai kontribusinya di bidang ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan, masyarakat Gorontalo menganugerahkan gelar “Ti Bulilango Hunggia“, yang berarti “Pemberi Cahaya Negeri”.
Gelar tersebut menjadi simbol penghormatan atas dedikasinya dalam membangun daerah asal sekaligus memperjuangkan kemajuan masyarakat Gorontalo, baik melalui dunia usaha maupun pengabdiannya di pemerintahan dan DPR RI.
Penulis: Kafi Kurnia




