Rahasia Jakarta 72 Jam

Rahasia Jakarta 72 Jam

 

Saya sering diejek teman-teman saya dari London, New York, Bangkok atau juga HongKong. Kata mereka sebagai kosmopolitan Jakarta tidak punya daya tarik yang bisa dibanggakan. Kata mereka Jakarta cuma kota besar tanpa pesona yang menggairahkan. Saya cenderung setuju dengan mereka. Jakarta seringkali tidak punya denyut yang bisa kita banggakan. Jakarta punya hotel-hotel bagus dan juga mall-mall yang spektakuler. Namun konten-nya bagi yang tidak berpengalaman menjadi sangat datar tanpa keajaiban yang spektakuler.

 

Sampai akhirnya saya bertemu dengan Eva (bukan nama yang sebenarnya) teman saya dari Singapura. Eva adalah seorang manajer pemasaran yang sudah malang melintang berkunjung ke Jakarta lebih dari 2 dekade. Eva sangat menyukai Jakarta, dan kalau berkunjung dia selalu menambah kunjungannya ke Jakarta menjadi minimal 3 hari. Dan Eva punya ritual yang sangat unik.

 

Menurut Eva – Jakarta mirip sebuah dongeng lama yang harus dinikmati lembar demi lembar, seperti layaknya sebuah buku tua. Eva mengatakan pada saya bahwa ritual kesayangan dia adalah pijat. Sampai-sampai Eva punya tukang pijit langganan yang ia pesan seminggu sebelumnya. Eva minimal pijat 2 kali dalam satu kunjungan. Pijat ala Indonesia menurut Eva sangat nikmat dan relax.

 

Kalau soal makan kata Eva Jakarta adalah kerajaan Bakmi karena jumlah bakmi di Jakarta banyaknya ratusan dan enak-enak semua. Namun ia merasakan bahwa banyak tempat bakmi itu berada di warung-warung yang sangat susah ia kunjungi. Jadi Eva selalu memilih outlet Bakmi yang paling mudah yaitu Bakmi Gajah Mada. Itu yang paling praktis.

 

Makanan kedua yang tidak boleh dilewatkan adalah, Rumah Makan Padang. Buat Eva yang kebetulan keturunan Melayu Singapura, makanan Padang adalah surga kuliner yang menurutnya menjadi keajaiban Jakarta. Dan makan di rumah makan Padang ketika ke Jakarta adalah sebuah ziarah kuliner yang hukumnya wajib dan harus dilakukan.

 

Dan kalau pas Jakarta musim Mangga, ini adalah keajaiban lain dari Ibukota Negara ini. Mangga Harum Manis menurut Eva tidak ada pesaingnya. Eva seringkali membawa 2-3 dus mangga harum manis ke Singapura. Teman dan kolega Eva sering berebut mangga Harum Manis ini. Kata saya, kalau Jakarta tida lagi musim mangga, oleh-oleh apa yang dibeli Eva ? Dan Eva bilang opsinya ada beberapa yang unik ala Jakarta. Eva sering membeli otak-otak dan atau pempek sebagai oleh-oleh alternatif. Dan ini keduanya juga sangat populer.

 

Kata Eva kalau malam hari, Jakarta kini punya lokasi hiburan yang seru pula. Berbagai kafe, restoran dan bar di wilayah SCBD, Senopati, Gunawarman dan Wolter Monginsidi merupakan belantara hiburan malam yang sangat bervariasi dan tidak pernah membosankan. Dari cerita Eva, akhirnya saya sangat yakin bahwa Jakarta seperti kosmopolis lainnya di Asia punya cerita yang luar biasa. Kita seringkali lupa saja. Dan berpikir Jakarta membosankan. Padahal Jakarta sangat seru dan penuh pesona.

 

 

Dapatkan Artikel Terbaru dari Kami