Penulis: Arnold C. Brackman
Penerbit: Praeger
Tahun Terbit: 1963 (Cetakan ke-3)
Tebal: xvi + 336 halaman
Pada awal 1960-an, ketika dunia masih terbelah oleh garis tajam Perang Dingin, seorang jurnalis Amerika menulis sebuah buku tentang Indonesia yang saat itu tampak seperti eksperimen politik paling aneh di dunia.
Negara yang baru merdeka, dipimpin seorang presiden karismatik, dan di dalamnya hidup berdampingan nasionalisme, agama, dan komunisme seperti tiga penumpang yang duduk di kursi yang sama, masing-masing pura-pura nyaman.
Buku itu adalah Indonesian Communism: A History, karya jurnalis dan pengamat Asia Tenggara Arnold C. Brackman.
Ketika edisi ketiganya terbit pada 1963, Brackman mungkin tidak menyangka bahwa dua tahun kemudian Indonesia akan mengalami salah satu tragedi politik paling dramatis dalam sejarahnya: Gerakan 30 September 1965.
Dibaca hari ini, buku tersebut terasa seperti kisah tentang gunung berapi yang sedang dijelaskan secara ilmiah, tepat sebelum gunung itu meletus.
Kisah Sebuah Ideologi yang Tersesat ke Nusantara
Brackman memulai ceritanya jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada awal abad ke-20, Hindia Belanda adalah negeri koloni yang bergolak. Gerakan nasionalisme tumbuh, kaum buruh mulai sadar politik, dan ide-ide revolusi dari Eropa mulai merambat ke pelabuhan-pelabuhan Asia.
Di tengah arus itu lahirlah organisasi yang kelak dikenal sebagai Partai Komunis Indonesia.
Tokoh-tokoh seperti Semaun dan Tan Malaka mencoba menyatukan dua gagasan besar: perjuangan kelas ala Marx dan semangat kemerdekaan bangsa. Namun percobaan itu tidak berjalan mulus.
Pada 1926 meledak Pemberontakan PKI 1926, sebuah pemberontakan yang terlalu cepat dan terlalu berani. Pemerintah kolonial Belanda menumpasnya dengan brutal. Banyak kader PKI dipenjara, dibuang, atau diasingkan ke kamp Boven Digul di Papua.
Bagi Brackman, kegagalan ini adalah pelajaran mahal yang membentuk karakter PKI di masa depan.
Mereka belajar satu hal penting: Revolusi di Indonesia tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru.
Kebangkitan dari Abu
Setelah kemerdekaan Indonesia, komunisme bangkit Kembali, seperti tokoh cerita yang muncul dari reruntuhan dengan wajah baru.
Tokoh yang paling menentukan dalam bab ini adalah D. N. Aidit. Di tangan Aidit, PKI berubah dari partai kecil yang nyaris mati menjadi organisasi politik raksasa.
Brackman menggambarkan Aidit bukan sekadar ideolog, tetapi juga organisator ulung. Ia membangun jaringan organisasi massa: serikat buruh, organisasi petani, kelompok pemuda, dan organisasi perempuan.
PKI tidak lagi bergerak seperti gerakan bawah tanah. Mereka bergerak terang-terangan, terorganisasi, dan sangat disiplin.
Pada awal 1960-an, PKI bahkan menjadi salah satu partai komunis terbesar di dunia di luar Uni Soviet dan Cina.
Politik Segitiga: Sukarno, Militer, dan PKI
Di pusat panggung politik Indonesia berdiri sosok yang nyaris seperti tokoh epik: Sukarno.
Presiden pertama Indonesia ini mencoba menyatukan kekuatan yang sebenarnya saling mencurigai: nasionalis, Islam, dan komunis. Ia menyebutnya Nasakom. Brackman menggambarkan situasi ini seperti permainan keseimbangan yang rumit.
Di satu sisi ada militer yang semakin kuat. Di sisi lain ada PKI yang semakin besar. Di tengahnya berdiri Sukarno, mencoba menjaga keduanya tetap berada dalam orbit yang sama.
Tetapi sejarah jarang ramah pada keseimbangan yang terlalu rapuh. Indonesia Menjelang Badai
Ketika buku Brackman terbit pada 1963, Indonesia sedang berada di titik yang menegangkan:
- Ekonomi memburuk
- Konflik politik semakin tajam
- Militer dan PKI saling mencurigai
Namun pada saat itu, PKI masih tampak seperti kekuatan politik yang sedang naik.
Bila membaca buku ini tanpa mengetahui sejarah selanjutnya, pembaca mungkin akan mengira PKI sedang menuju masa depan yang cerah.
Tetapi dua tahun kemudian sejarah mengambil tikungan tajam.
Pada malam 30 September 1965 terjadi peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September 1965. Sejumlah jenderal dibunuh, situasi politik berubah drastis, dan militer di bawah Suharto bergerak mengambil alih kekuasaan.
PKI yang sebelumnya tampak seperti raksasa politik tiba-tiba runtuh dalam waktu singkat.
Membaca Buku Ini Setelah Tragedi
Di sinilah buku Brackman menjadi menarik. Ia tidak menulis tentang tragedi 1965, karena tragedi itu belum terjadi.
Namun hampir semua unsur yang kelak meledak sudah terlihat dalam buku ini:
- Pertumbuhan pesat PKI
- Hubungan ambigu antara PKI dan Sukarno
- Ketegangan dengan militer
- Situasi politik yang semakin radikal
Seperti seorang sejarawan yang memotret langit sebelum badai, Brackman tanpa sadar mendokumentasikan detik-detik sebelum salah satu perubahan politik terbesar dalam sejarah Indonesia.
Kesimpulan
Sebagai karya sejarah, Indonesian Communism: A History bukan hanya buku tentang ideologi. Ia adalah cerita tentang ambisi, strategi, dan konflik kekuasaan di negara yang baru lahir.
Dibaca hari ini, buku ini terasa seperti bab pembuka dari sebuah tragedi besar. Kita melihat bagaimana sebuah partai tumbuh dari gerakan kecil menjadi kekuatan politik raksasa, dan bagaimana seluruh panggung politik Indonesia perlahan bergerak menuju peristiwa 1965 yang akan mengubah segalanya. Sejarah kadang tidak memberi tanda sebelum ia berubah.
Tetapi buku Brackman menunjukkan bahwa tanda-tanda itu sebenarnya sudah ada, hanya saja belum semua orang menyadarinya.(*)



