Penulis: Laurence Bergreen
Penerbit: Touchstone
Tahun Terbit: 1994
Tebal: 701 halaman
Ketika orang menyebut nama Al Capone, bayangan yang muncul biasanya sederhana: seorang gangster gemuk dengan jas mahal, cerutu besar, dan senyum yang lebih berbahaya daripada senapan Thompson. Ia adalah ikon kriminalitas Amerika, terutama pada masa Prohibition in the United States.
Namun buku Capone: The Man and the Era karya Laurence Bergreen mencoba melakukan sesuatu yang lebih sulit: membongkar manusia di balik legenda. Hasilnya adalah potret yang jauh lebih kompleks, dan kadang jauh lebih absurd daripada film gangster mana pun.
Dari Anak Imigran Brooklyn ke Jalanan Dunia Kriminal
Kisah Capone dimulai jauh dari Chicago, yakni di lingkungan imigran Italia di Brooklyn. Ia lahir pada 1899 dari keluarga pekerja keras. Ayahnya tukang cukur, ibunya ibu rumah tangga yang religious. Kombinasi klasik keluarga imigran yang berharap anaknya kelak menjadi dokter, pengacara, atau minimal tidak masuk penjara.
Harapan itu tidak sepenuhnya berhasil. Capone keluar dari sekolah pada usia sekitar 14 tahun setelah memukul gurunya. Ini bukan CV akademik yang menjanjikan, tetapi sangat cocok untuk karier kriminal.
Ia segera bergabung dengan geng jalanan, termasuk kelompok yang dipimpin oleh gangster legendaris Johnny Torrio.
Di sinilah Capone belajar dua hal penting: kriminalitas bisa dijalankan seperti perusahaan dan kekerasan adalah alat negosiasi yang sangat efektif.
Bekas luka di wajahnya, yang membuatnya dijuluki Scarface, datang dari perkelahian di bar. Julukan itu sebenarnya ia benci, tetapi sejarah tampaknya tidak peduli pada preferensi pribadi.
Chicago: Kota yang Siap Dikuasai
Ketika Torrio pindah ke Chicago, Capone ikut serta. Kota ini pada awal 1920an adalah laboratorium sempurna bagi kriminalitas modern. Alasannya sederhana: negara melarang alkohol melalui Prohibition di Amerika Serikat, tetapi warga Amerika tetap ingin minum. Bahkan mungkin lebih ingin.
Di sinilah Capone menemukan tambang emas ilegal bernama bootlegging, bisnis penyelundupan dan distribusi minuman keras. Operasi ini melibatkan jaringan bar rahasia (speakeasy), penyelundupan dari Kanada, dan tentu saja suap kepada polisi dan politisi.
Bergreen menggambarkan Capone bukan sekadar preman, tetapi CEO kriminal. Ia mengelola ribuan karyawan, dari bartender ilegal sampai pembunuh bayaran.
Ironisnya, Capone juga rajin membangun citra sebagai dermawan. Ia membuka dapur umum saat Depresi Besar. Dengan kata lain, ia menembak orang pada malam hari dan memberi sup gratis pada pagi hari, sebuah strategi PR yang agak ekstrem.
Pembunuhan dan Teror
Buku ini tidak menghindari sisi gelap Capone: dunia kekerasan yang menopang kerajaannya.
Capone dikaitkan dengan berbagai pembunuhan dalam perang geng Chicago. Salah satu peristiwa paling terkenal adalah:
• Saint Valentine’s Day Massacre
Pada 14 Februari 1929, tujuh anggota geng rival pimpinan Bugs Moran ditembak mati oleh orang-orang berseragam polisi palsu. Mesin penembak otomatis, simbol gangster klasik, digunakan dalam pembantaian ini.
Secara hukum, Capone tidak pernah dihukum atas peristiwa tersebut. Namun hampir semua orang di Chicago memahami siapa yang berada di baliknya.
Di sinilah Bergreen menarik gambaran menarik: Capone bukan pembunuh jalanan yang menembak sendiri, melainkan arsitek kekerasan. Ia menjalankan organisasi di mana pembunuhan adalah bagian dari manajemen konflik.
Semacam human resources department, tetapi dengan senapan mesin.
Jatuhnya Sang Raja Kriminal
Ironi terbesar dalam kisah Capone adalah cara ia akhirnya ditangkap. Bukan karena pembunuhan.
Bukan karena penyelundupan alkohol. Melainkan karena pajak.
Pemerintah federal akhirnya menjebaknya melalui kasus penghindaran pajak yang dipimpin oleh agen seperti Eliot Ness dan jaksa federal.
Pada 1931, Capone dijatuhi hukuman penjara dan akhirnya dikirim ke Penjara Federal Alcatraz. Bergreen menggambarkan akhir hidup Capone sebagai tragis sekaligus ironis. Penyakit sifilis yang tidak diobati menghancurkan kesehatan mentalnya. Sang raja kriminal akhirnya hidup seperti bayangan dari dirinya sendiri. Dari penguasa Chicago menjadi pria tua yang kebingungan di rumahnya di Florida.
Buku vs Film The Untouchables
Perbandingan dengan film gangster klasik hampir tidak terelakkan, terutama dengan film The Untouchables karya sutradara Brian De Palma yang dibintangi oleh Robert De Niro sebagai Capone.
Perbedaan antara buku Bergreen dan film tersebut cukup mencolok.
1. Capone sebagai manusia vs karikatur
Film menggambarkan Capone sebagai sosok flamboyan, meledak-ledak, dan hampir teatrikal. Adegan terkenal di mana ia memukul seseorang dengan tongkat baseball adalah contoh dramatisasi. Buku Bergreen jauh lebih dingin dan realistis. Capone ditampilkan sebagai operator bisnis kriminal yang pragmatis, bukan sekadar psikopat temperamental.
Singkatnya:
film = opera gangster
buku = laporan investigasi sejarah.
2. Peran Eliot Ness
Dalam film, Eliot Ness digambarkan sebagai pahlawan utama yang menjatuhkan Capone.
Dalam kenyataannya, dan dalam buku Bergreen, peran Ness penting, tetapi bukan faktor tunggal. Penangkapan Capone lebih banyak dipicu oleh penyelidikan pajak oleh Departemen Keuangan. Hollywood menyederhanakan cerita karena, jujur saja, film tentang audit pajak mungkin tidak terlalu laku.
3. Kekerasan yang lebih kompleks
Film cenderung menampilkan perang geng sebagai duel dramatis antara polisi dan mafia.
Buku Bergreen menunjukkan sesuatu yang lebih kacau: korupsi polisi, politisi yang disuap, dan masyarakat yang sebenarnya menikmati alkohol ilegal. Chicago saat itu bukan sekadar medan perang moral. Kota itu adalah ekosistem kriminal.
Penilaian
Buku Capone: The Man and the Era berhasil melakukan sesuatu yang sulit: menghilangkan mitos tanpa menghilangkan daya tarik cerita. Laurence Bergreen menulis dengan riset sejarah yang kuat tetapi tetap mengalir seperti novel kriminal. Ia menunjukkan bahwa Capone bukan hanya gangster terkenal, melainkan produk dari zaman yang aneh, ketika hukum melarang sesuatu yang sebenarnya diinginkan hampir semua orang.
Pelajaran sejarahnya sederhana namun pahit: ketika permintaan tinggi dan hukum mencoba menutupnya, seseorang seperti Capone hampir pasti akan muncul. Biasanya ia datang dengan jas mahal, cerutu besar, dan departemen pembunuh yang sangat efisien.(*)



