SATU pertanyaan yang terus hinggap ditelinga saya, adalah :”Bagaimana kita bisa bertahan ? dan tetap ‘survive’ dari krisis ini ?” Situasi yang disebut koran-koran – krisis ekonomi global – memang memicu kepanikan luar biasa. Ditambah ketakutan bertubi-tubi. Buktinya hanya dalam 2 bulan saya sudah melakukan ‘coaching’ – SURVIVAL TECHNIQUE – kepada lebih dari 2 lusin perusahaan. Mengajarkan kepada perusahaan-perusahaan ini, cara-cara teknik survival yang praktis agar bertahan dari siksaan krisis.
Secara spiritual Mpu Peniti, mentor dan guru saya – memberi wejangan bahwa sesungguhnya semua mahluk hidup sudah dibekali ‘naluri survival’ agar bisa bertahan. Menurut Mpu Peniti, Tuhan tidak menciptakan kita dengan maksud agar suatu hari kita punah begitu saja. Kita telah diberikan kemampuan untuk ber-evolusi dan beradaptasi yang sangat luar biasa. Buktinya kita tetap bertahan selama jutaan tahun lamanya. Nah, bekal inilah yang harus kita manfaatkan secara maksimal. Caranya sangat sederhana. Belajar dari sejarah. Bagaimana nenek moyang kita, selalu mendekatkan diri dengan alam, dan berusaha mengerti setiap perubahan alam.
Seorang antropolog pernah mendongeng bahwa nenek moyang kita belajar tentang cuaca secara seksama dan teliti, sehingga mereka punya hitungan yang akurat soal musim tanam dan waktu melaut untuk menangkap ikan. Pengetahuan itu diturunkan secara berabad-abad secara naluriah, tanpa penjelasan seperti dalam sebuah ‘text book’.
Didalam kancah pertempuran bisnis, situasinya juga sangat mirip sekali. Pedagang-pedagang tradisional yang mewarisi bisnisnya turun temurun, juga memiliki naluri terhadap musim dan waktu. Mereka juga punya tekhnik ‘survival’, misalnya dengan menjadi pedagang musiman. Hanya saja dijaman tekhnologi nano saat ini, dimana waktu bersilangan dengan tekhnologi dan globalisasi dalam ketelanjangan sempurna, maka kita tidak lagi kebal terhadap sebuah perubahan yang terjadi di Amerika.
Edward Lorenz yang banyak melakukan riset dalam ‘Chaos Theory’ mempopulerkan sebuah ide unik yang kemudian dikenal dengan ‘Butterfly effect’. Teorinya memang edan, bayangkan seekor kupu-kupu mengepakan sayapnya. Sehingga terjadi perubahan di atmosfir. Yang menular sehingga menjadi perubahan serius dan menciptakan tornado yang merusak seluruh panen kopi di Brazil.
Walaupun edan, teori Edward Lorenz seringkali digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi saat ini. Krisis ekonomi global saat ini, barangkali juga paling baik bila diterjemahkan menggunakan Chaos Theory. Dimana ekonomi dunia yang besarnya mendekati 60 trilyun dollar dihancurkan oleh kekacauan (chaos) yang berdasarkan sentimen pasar. Akibatnya menciptakan tornado krisis ekonomi dimana-mana. Begitu cepat dan drastisnya perubahan itu, sehingga kita ketinggalan bereaksi dan beradaptasi. Dan karena krisis itu sambung menyambung, biarpun kita mampu melakukan reparasi dipusatnya, belum tentu kita bisa membetulkan kerusakan dan krisis sekunder yang terjadi dinegara-negara lain.



