Judul: Agak Laen – Menyala Pantiku!
Genre: Komedi
Tanggal rilis: 27 November 2025
Durasi: 119 menit
Sutradara: Muhadkly Acho
Pemain: Bene Dion, Oki Rengga, Indra Jegel, Boris Bokir, Jajang C. Noer, Jarwo Kwat, Ariyo Wahab
“Ketika Empat Detektif Gagal Membuktikan bahwa Kegagalan Juga Butuh Bakat”
Kalau film pertama Agak Laen mengajarkan bahwa menjaga rumah hantu ternyata lebih sulit daripada menjaga hubungan yang sudah masuk fase “kita perlu bicara”, maka Agak Laen: Menyala Pantiku! membawa Bene, Boris, Jegel, dan Oki ke profesi baru yang sama-sama tidak kompetennya: detektif. Atau lebih tepatnya, empat orang yang kebetulan memakai atribut detektif.
Disutradarai oleh Muhadkly Acho, film ini bukan kelanjutan langsung cerita rumah hantu dalam Agak Laen (2024), melainkan petualangan baru yang menempatkan empat sekawan tersebut sebagai aparat penegak hukum yang prestasinya lebih tipis daripada sinyal Wi-Fi di WC di lantai rubanah.
Mereka mendapat kesempatan terakhir untuk memecahkan kasus pembunuhan anak wali kota dengan cara menyamar di sebuah panti jompo. Ya, panti jompo. Karena kalau ada tempat paling logis untuk menyembunyikan buronan berbahaya, tentu saja jawabannya adalah tempat orang-orang sibuk membahas tekanan darah dan jadwal minum obat.
Plot yang Mustahil, Tapi…
Premis film ini sesungguhnya absurd. Namun absurdnya bukan tipe yang membuat penonton mengernyitkan dahi, melainkan yang membuat penonton tertawa sambil bergumam: “Ini kok bisa kepikiran, sih?”
Film bergerak seperti stand-up comedy yang diberi anggaran produksi. Alur misterinya ada, tetapi tidak pernah terlalu serius untuk menenggelamkan komedi. Setiap kali cerita mulai terlihat seperti drama kriminal sungguhan, salah satu karakter akan melakukan keputusan yang begitu bodoh sehingga penonton kembali diingatkan bahwa mereka sedang menonton empat manusia yang seharusnya gagal saat tes psikologi polisi.
Keberhasilan terbesar film ini adalah menjaga keseimbangan antara misteri dan komedi. Penonton tetap penasaran dengan pelaku kejahatan, tetapi juga tidak terlalu peduli jika gagal menebaknya, karena perjalanan menuju jawabannya sudah cukup menghibur.
Empat Karakter, Empat Bencana…
Seperti film pertama, kekuatan utama tetap berada pada chemistry empat pemeran utamanya: Bene Dion, Boris Bokir, Indra Jegel, dan Oki Rengga.
Mereka tidak berakting seperti aktor yang sedang memainkan karakter. Mereka berakting seperti empat teman tongkrongan yang tiba-tiba tersesat ke lokasi syuting dan memutuskan untuk tetap tinggal sampai film selesai.
Bene tetap menjadi sosok yang mencoba terlihat paling rasional, meski rasionalitasnya sering tumbang setelah lima menit.
Boris membawa energi “saya punya ide” yang biasanya diikuti kalimat, “jangan lakukan itu.”
Jegel adalah spesialis ekspresi wajah yang bisa membuat dialog biasa terdengar seperti ancaman terhadap akal sehat.
Sedangkan Oki tetap menjadi senjata rahasia film: semakin serius situasinya, semakin lucu kehadirannya.
Tidak Berusaha Sok Artistik sih…
Salah satu hal yang patut diapresiasi adalah film ini tidak terjebak dalam penyakit yang sering menyerang film komedi sukses: keinginan mendadak menjadi sangat filosofis.
Kamera bekerja efektif melayani komedi. Pengambilan gambar memberi ruang bagi ekspresi para pemain untuk berkembang. Banyak momen lucu muncul bukan dari dialog, tetapi dari reaksi karakter setelah dialog tersebut terlontar.
Film ini paham satu prinsip penting komedi: terkadang wajah bingung lebih lucu daripada satu halaman naskah lelucon.
Berbeda dengan Film Sebelumnya…
Film Agak Laen (2024) terasa lebih segar karena konsep rumah hantunya benar-benar baru dan tak terduga. Ia memiliki unsur horor yang menjadi bahan bakar komedinya.
Sementara Menyala Pantiku! bergerak ke wilayah komedi investigasi. Skala ceritanya lebih besar, misterinya lebih kompleks, dan produksinya terasa lebih matang. Namun, film pertama masih sedikit unggul dalam faktor kejutan.
Kalau diibaratkan makanan:
- Agak Laen adalah bala-bala panas yang baru keluar dari wajan.
- Menyala Pantiku! adalah satu piring nasi padang lengkap. Pake otak.
Yang pertama lebih sederhana tapi mengejutkan. Yang kedua lebih besar, lebih ramai, dan membuat Anda kenyang oleh kekacauan.
Meskipun Begitu…
Tidak semua lelucon mendarat sempurna.
Ada beberapa adegan yang terasa terlalu panjang, seperti grup WhatsApp keluarga yang masih membahas ucapan selamat Lebaran sampai bulan Agustus.
Sebagian humor juga terasa sangat dekat dengan gaya podcast dan stand-up mereka. Penonton yang tidak akrab dengan dunia Agak Laen mungkin akan kehilangan beberapa lapisan candaan yang dinikmati para penggemarnya. Namun secara umum, film ini masih cukup ramah bagi penonton baru.
Akhirnya…
Agak Laen: Menyala Pantiku! adalah contoh langka sekuel yang tidak sekadar menumpang popularitas film pertama. Ia mengambil risiko dengan cerita baru, genre yang sedikit berbeda, dan skala yang lebih besar. Hasilnya adalah film komedi yang berhasil membuat penonton tertawa tanpa harus menjual otak mereka di loket bioskop.
Film ini mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki banyak detektif hebat di layar kaca. Sayangnya, empat detektif dalam film ini bukan bagian dari kelompok itu.
Menurut Keyakinan Saya, Nilainya: 8,5/10
Karena tidak mudah membuat film panjang tentang empat orang yang tampaknya selalu salah mengambil keputusan, tetapi tetap membuat penonton ingin mengikuti mereka sampai akhir.
Dan mungkin itulah definisi persahabatan sejati: tetap bersama, meski teman-teman Anda berkali-kali membuktikan bahwa mereka adalah kamus, eh, ide buruk yang berjalan.
*ARP, Oblagers, Juni 2026
Foto: Internet
Nonton di: Netflix




