Selama hampir 30 tahun saya menjalani perjalanan dinas ke berbagai negara, saya punya pengalaman yang berjilid-jilid banyaknya. Sebagian besar merupakan momen-momen spektakuler yang saya banggakan. Tetapi ada satu jilid cerita yang membuat saya selalu menghela nafas. Bukan karena lega, tetapi mirip dengan sebuah akhir meditasi dimana kita menikmati sebuah pencerahaan yang membuat kita lebih bijak dan kaya. Semua tokoh cerita didalam momen-momen itu adalah supir taxi diberbagai kota yang saya jelajahi.
Supir taxi bagi saya mirip dengan satu sel darah yang mengarungi pembuluh darah terus menerus dan tidak pernah berhenti. Mereka-lah yang mengerti sesungguhnya denyut dan kehidupan sebuah kota. Tak heran apabila banyak penulis yang membuat buku tentang kisah-kisah mereka. Karena mereka memiliki sejumlah logika yang unik dan berlawanan dengan logika kebiasaan namun memiliki kebenaran yang sukar terbantahkan.
Di Jakarta misalnya, saya termasuk orang yang jarang menggunakan taxi, namun saya tidak pernah melewatkan “ngobrol” dengan mereka untuk mendapatkan sepotong pencerahan. Karena mereka mengarungi kota Jakarta terus menerus, mereka punya naluri yang tajam tentang kota ini. Belum lama ini saya bertemu dengan seorang supir taxi. Usianya masih tergolong muda. Namun ia telah menjadi supir taxi hampir 12 tahun. Wajahnya cukup ganteng mengingatkan saya pada seorang penyanyi dangdut yang beken.
Ia seorang betawi tulen, ayahnya keturunan Arab dan dulunya punya banyak simpanan tanah. Namun kini habis terjual. Sebagian karena diperebutkan keluarga. Sisanya habis terjual untuk membiayai petualangan ayahnya yang hobi kawin cerai. Sambil tertawa ia mengatakan, bahwa kebetulan ayahnya cukup ganteng. Sehingga banyak ditaksir oleh wanita-wanita. Maka tak heran apabila ia mewarisi wajah ganteng dari ayahnya. Karena hartanya sudah menipis, ia terpaksa menjadi supir taxi.
Saya bertanya pada dirinya, tentang situasi ekonomi saat ini. Ia kembali tertawa dan mengeluh susahnya hidup. Begini kisahnya ! Rupanya ia punya langganan beberapa wanita yang bekerja disejumlah bar dan panti pijat di Jakarta. Ia seringkali menjemput mereka usai bekerja, setelah tengah malam. Menurutnya apabila ia mendapat uang tip yang cukup besar tiap malam, artinya bar dan panti pijat kebanjiran tamu dan bisnis sedang cukup ramai. Artinya ekonomi sangat baik. Tetapi apabila pelanggan-nya sering berhutang dan pelit memberikan uang tip, maka ekonomi sedang seret. Saya tertawa tergelak mendengar logika-nya. Dan ia mengatakan bahwa sejak 2 bulan ini, ia merasakan kurang mendapat tip. Esok harinya saya membaca koran pagi, dan laporan survei Bank Indonesia menyebutkan hal yang sama. Bahwa makro ekonomi mungkin bagus dan kurang gejolak, tetapi pasar lesu, dan daya beli melemah. Dalam hati saya mengiyakan observasi supir taxi itu. Sebuah logika orang kebanyakan yang sangat jitu.
Seorang supir taxi pernah bercerita bahwa ia cuma orang kecil yang mencoba mengerti jalan hidupnya. Ia dulunya sorang pengusaha yang cukup sukses. Kemudian ditipu oleh keluarga istrinya sehingga jatuh bangkrut dan miskin. Ia mencoba bekerja kantoran tetapi tidak lama. Kini diusianya yang mendekati 60’an ia akhirnya bekerja sebagai supir taxi. Profesi yang ia jalani hampir 6 tahun lamanya. Awalnya ia tidak bisa menerima nasibnya yang sedemikian dramatis. Ia mengutuk Tuhan yang telah berbuat tidak adil. Namun akhirnya ia merasakan ini pilihan hidup yang baik, setelah ia menekuni profesi supir taxinya dengan tabah, belajar berhemat dan cerdik dalam kehidupan. Semua anaknya selesai sekolah dan punya karir cukup baik. Menikah dan memberinya sejumlah cucu. Anak-anaknya meminta ia pensiun, tetapi ia menolak.
Ia berkisah kepada saya, bahwa ditengah keterpurukan hidupnya, Tuhan mendidiknya menjadi manusia yang lebih baik. Dan ia tidak menyesal menukar semua harta bendanya dengan kehidupan sekarang ini. Ia berkata bahwa tidurnya jauh lebih nyenyak dan ia tidak mau mewariskan kesusahan hidupnya kepada anak-anaknya. Sambil tertawa ia mengatakan bahwa ia menjadi filsuf kehidupan tanpa disengaja. Dan ia sangat berbahagia. Karena ia ditunjukan tentang nilai dan arti kehidupan yang ia tidak mengerti sebelumnya. Banyak orang hanya makan, bernafas dan tidur. Tetapi itu bukan kehidupan kilah sang supir taxi itu kepada saya. Itu hanya hidup tanpa kehidupan ! Satu kalimat yang hingga kini selalu saya ingat. Dari beliau ini saya berguru banyak. Walaupun perjalanan taxi kami cuma sekitar 27 menit. Tanpa terasa itulah 27 menit kuliah terpenting dalam kehidupan saya.
Supir taxi seringkali adalah penjaga rahasia sebuah kota. Mereka paham tempat-tempat unik dari sebuah kota. Mulai dari tempat berbuat nakal hingga tempat-tempat tidak aman dan tempat makan paling enak disebuah kota. Setiap kali saya bosan dengan makanan di sebuah kota, saya selalu bertanya kepada supir taxi dimana tempat makan yang paling enak. Hal ini pernah saya alami, makan ditempat sangat luar biasa di Cebu, Tunisia dan Sydney. Saya diajak supir taxi makan ditempat mereka biasa makan. Dan makanan-nya sangat luar biasa enaknya, sederhana, sangat murah serta tidak mungkin anda cari di internet. Warung yang kami kunjungi semuanya tidak bermerek. Namun legendaris dikalangan supir taxi.
Berjilid-jilid pengalaman diatas membuat saya terkesan dengan supir taxi. Bagi saya mereka seringkali menjadi guru yang sangat bermanfaat. Dari mereka saya belajar banyak. Saya juga banyak belajar dari orang-orang kecil lainnya. Apakah mereka tukang bakso atau penyapu jalan. Mpu Peniti, mentor spiritual saya, pernah menasehati bahwa setiap orang yang bergelut dengan kehidupan, ibarat sebuah besi yang ditempa panasnya api. Suatu saat mereka akan menjadi arif dan bijaksana, dan suatu saat mereka menjadi sebuat alat yang penuh manfaat. Jadi jangan malu belajar dari siapapun. Termasuk dari supir taxi sekalipun.
Barangkali belajar merupakan sebuah upaya purifikasi jiwa kita. Saya percaya benar pada kalimat ini. Belajar menunjukan sikap rendah hati dan menghormati orang lain. Itu sebabnya kita perlu dan sepatutnya belajar dari siapapun. Tanpa terkecuali. Karena siapapun bisa dan suatu saat akan menjadi guru dengan kapasitasnya masing-masing. Alvin Toffler seorang futurist atau akademisi tentang masa depan, pernah berkata bahwa dimasa mendatang buta huruf bukan disebabkan karena kita tidak bisa membaca atau menulis, melainkan karena kita gagal belajar. Juga karena kita gagal mempelajari ulang apa yang pernah kita pelajari. Dan kita gagal mengosongkan apa yang telah kita pelajari.
Saya merasakan kebenaran ucapan Alfin Toffler itu. Ada pepatah yang mengatakan bahwa sejarah itu adalah seorang guru yang arif dan bijaksana. Namun bodohnya kita – selalu saja kita mengabaikan sejarah. Menolak sejarah. Menganggap sepele sejarah. Tanpa kita sadari kita seringkali malas belajar, lupa belajar, dan gagal belajar. Keberhasilan hidup ini barangkali 100% bergantung kepada kemauan kita untuk belajar dan kemampuan kita untuk belajar. “Pintar itu bukan karena bakat, dan tidak ada orang yang tiba-tiba pintar. Orang pintar karena rajin belajar dan tidak pernah berhenti belajar”, itu sebuah kalimat yang dikatakan seorang supir taxi di Beijing. Seorang guru yang sangat saya hormati.



