Potret Ekonomi Jalanan Kuartal Pertama 2017

Saya jelas-jelas bukan seorang ahli ekonomi. Pemaham-an saya soal ekonomi 100% dari naluri dan panca indera sehari-hari melakukan bisnis. Istilah keren jaman sekarang – “crowd wisdom”. Jadi kalau anda membaca artikel ini jangan memakai kaca mata yang salah. Saya tidak membuat analisa yang bisa dipertanggung jawabkan secara akademis. Silahkan anda berbeda pendapat dengan saya.

Hampir sebulan  yang lalu – saya menerima email dari seorang kerabat bisnis. Ia bertanya singkat dan jelas. “Bagaimana situasi ekonomi Indonesia sekarang ?” Lalu ia juga menanyakan prediksi saya. Seolah-olah saya konsultan ekonomi buat dia. Awalnya saya tertawa terbahak-bahak. Karena ini jelas pertanyaan yang menjebak. Jebakan Batman begitu istilah populernya. Namun bertahun-tahun mengenalnya, saya sangat paham bahwa ia sangat cerdas, penuh pengetahuan, rajin bergaul dan pasti punya narasumber yang banyak. Tetapi mengapa ia bertanya kepada saya ? Lalu iseng saya balas emailnya singkat – “Tanya dong sama Mbah Google”. Ia hanya membalas dengan “hahahahahahahahahaha”.

Tak lama kemudian, saya terusik juga rasa penasaran saya. Pikir saya ini, barangkali ini saatnya meditasi ekonomi, menajamkan naluri dan memotret ekonomi di jalan. Sayapun siap beraksi ! Memotret situasi ekonomi Indonesia. Ketika berkunjung ke sebuah mall di Jakarta, saya sempat melihat sejumlah pegawai sedang rehat makan siang. Beberapa diantaranya makan nasi bungkus, mungkin dari warteg,tetapi ada beberapa makan dengan bawa bekal dari rumah. Salah seorang dari mereka bertanya : “Koq elu rajin banget sih. Tiap hari bawa bekal dari rumah ?”

Yang ditanya menjawab sambil tertawa : “ Bukan rajin tau ! Tapi ngak sanggup makan warteg. Buat gue warteg tuh mewah !” . Entah kenapa tiba-tiba dada saya terasa sesak. Rasanya ada ganjalan yang membuat saya ikut miris dan bersedih. Namun itulah realita dijalan.

Pulang dari mall, seorang teman mengirim pesan. Ia memberanikan diri untuk meminjam uang. Alasan-nya hidup lagi super susah. Lalu kami “chat” lewat telpon. Ia menuturkan bahwa gaji suaminya itu hanya Rp.3,7 juta dan sudah 4 tahun tidak berubah. Tidak pernah naik ! Malam harinya saya tanya sama Mbah Google, dan di internet keluarlah sejumlah artikel ekonomi. Uniknya semua artikel itu bervariasi, tapi kebanyakan bagus dan baik. Artinya ekonomi Indonesia lumayan bagus-lah. Hanya ada 1-2 artikel yang menyuarakan lampu kuning. Perasaan saya campur aduk.

Mana yang benar nih ?

Besoknya saya mengajak seorang teman bankir untuk makan siang. Perlahan-lahan saya pancing dengan beberapa pertanyaan menjebak. Tetapi ia tidak mau menjawab lugas. Dari sindiran-nya saya mencerna bahwa kata koran keadaan makro ekonomi kita sebenarnya cukup bagus. Dan  apa kata koran dengan kenyataan di lapangan seringkali sangat berbeda. Ia mengeluh secara halus bahwa target tahunan sangat sukar dicapai. Bagi sebuah bank dengan status perusahaan publik mereka harus punya siasat bisnis yang berlapis-lapis.

Disatu pihak bisnis mereka perlu tumbuh nyata dan dilain pihak mereka juga harus bisa memuaskan pemegang saham. Bila tidak harga saham mereka anjlok dan situasi bisa runyam. Pusingnya bisa tujuh turunan. Begitu ia mengakhiri sesi makan siang kami. Sebenarnya sebulan yang lalu sebuah majalah berita di Indonesia menampilkan laporan utama tentang NPL atau kredit macet yang tumbuh agak tinggi tahun 2017. Puncak kredit macet yang diumumkan pemerintah 3% (gross) pada Juni 2016 ternyata naik menjadi 3,1% pada Januari 2017. Ini yang ditakutkan semua orang. Trend kredit macet akan naik di 2017. Artinya yang punya hutang pada kesulitan membayar.

Pulang dari makan siang, saya menelpon seorang teman yang profesinya pengacara. Ia pernah mengatakan bahwa bilamana situasi ekonomi sedang baik, bisnisnya diwarnai dengan maraknya para pengusaha membuat usaha “joint-ventures” alias kongsi. Baik dengan partner didalam negeri dan atau partner diluar negeri. Tetapi bilamana ekonomi sedang jelek, bisnisnya lebih banyak dipenuhi dengan pengusaha yang pecah kongsi. Dan sudah dua tahun terakhir ini bisnisnya memang lebih banyak permintaan bercerai alias pecah kongsi. Ia juga punya sejumlah klien yang sedang mangkir tidak bisa membayar hutang.

Perasaan batin saya semakin tidak nyaman. Saya lalu teringat pidato Jokowi beberapa waktu yang lalu – yang meminta BUMN untuk melakukan sekuritisasi asset, agar tersedia dana untuk membangun infrastruktur. Indonesia memang jelas tertinggal pembangunan infrastrukturnya. Itu sebabnya pemerintah gencar menggenjot pembangunan infrastruktur. Namun pembangunan infrastruktur butuh uang dalam jumlah sangat banyak. Sehingga pemerintah harus berusaha punya uang sebanyak-banyaknya. Pendapatan pemerintah sangat terbatas sekali. Pertama dari pajak dan kedua lewat hutang. Itu motivasi utama pemerintah belum lama ini menggelar program Tax Amnesty. Tujuan-nya jelas yaitu berusaha untuk meningkatkan penerimaan pajak secara maksimal. Sedangkan hutang Indonesia jelas semakin membengkak. Tahun 1998 ketika Indonesia masuk era reformasi, warisan hutang kita saat itu sekitar Rp. 1.300 trilyun. Sedangkan tahun 2017 atau hampir 20 tahun setelah reformasi hutang kita sudah membengkak menjadi Rp. 4.274 trilyun, atau sudah meningkat lebih 300%.

Kalau saya disuruh mikir hutang sedemikian banyak, pasti ketombe dan uban tumbuh drastis dikepala saya. Akhirnya saya melakukan 2 pengecekan terakhir. Pertama saya melakukan interview dengan pelaku bisnis hiburan. Teorinya sederhana, kalau duit gampang diperoleh, biasanya orang mudah bersenang-senang. Teman saya yang bergerak didunia hiburan mengatakan bahwa sebenarnya setelah pergantian pemerintahan dari SBY ke Jokowi – bisnis hiburan cukup lesu selama 4 tahun terakhir ini. Tahun 2016 cukup jelek, tetapi kwartal pertama 2017, pendapatannya minus 30% dibanding tahun 2016. Menurutnya situasi ekonomi memang cukup seret. Buat kebanyakan pelaku ekonomi – Indonesia sangat terpengaruh dengan “uang panas”. Konon kabarnya banyak “uang panas” ini menguap dan atau disembunyikan di bawah bantal.

Menurut Gaikindo – puncak penjualan mobil di Indonesia terjadi tahun 2013 sebanyak 1,23 juta unit. Tahun 2014 turun menjadi 1,20 juta dan tahun 2015 merosot hingga 1,01 juta. Tahun 2016 penjualan naik ke 1,06 juta dan masih terpaut jauh angkanya dengan tahun 2013. Pertumbuhan ini kebanyakan juga ditunjang oleh kenaikan penjualan di Indonesia wilayah Timur. Misalnya Papua yang tumbuh 59,73% dan NTB yang penjualan-nya naik 94,45%. Pertumbuhan terbesar lainnya juga datang dari mobil jenis LCGC alias Low Cost Green Car yang tumbuh naik sebesar 38,3%. Artinya dugaan ekonomi melemah selama 4 tahun mulai terkuak perlahan tabirnya.Penjualan sepeda motor pada tiga bulan pertama tahun 2017 masih belum menunjukkan perbaikan yang signifikan pula. Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan motor pada kuartal I/2017 tercatat hanya sebanyak 1.401.538 unit. Angka tersebut turun sebesar 7,34% dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun lalu yakni sebanyak 1.504.468 unit.

Dapatkan Artikel Terbaru dari Kami