Beberapa minggu yang lalu – saya kebetulan ke Djogdjakarta dan ke Bali bersama seorang teman dari London. Di Borobudur dan Candi Boko kami berdua mengejar keindahaan matahari tenggelam. Istilah keren-nya “Sunset”, namun cuaca tidak memungkinkan dan hujan menutupi “sunset” yang kami kejar. Kami berdua sangat kecewa karena teman saya sudah berusia 62 tahun, dan ia tidak tahu kapan lagi bisa ke Indonesia dan berburu “sunset” yang ia lihat di Internet sangat spektakuler.
Perjalanan kami lanjutkan ke Bali akhirnya, dan di Tanah Lot serta Kuta kami akhirnya bisa mengintip “sunset” yang kami buru – walaupun tidak sempurna seperti yang kami harapkan. Sebelum ke Tanah Lot – saya menyempatkan mampir ke Pantai Canggu. Kurang dari 20 tahun yang lalu – Pantai Canggu menyentuh jiwa saya secara magis. Didepan Hotel Tugu ada sebuah pantai yang sunyi. Seringkali sore-sore ditemani secangkir espresso saya seringkali dengan sabar duduk sendiri menunggu matahari tenggelam. Dan sesekali matahari tenggelam itu sedemikian sempurna – sehingga saya kehabisan nafas. Kagum dan sekaligus merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bahwa alam bisa begitu sempurna indahnya.
Kali ini ketika saya kembali ke Pantai Canggu, saya kecewa berat. Karena tempat saya menonton matahari tenggelam telah musnah. Pantai menjadi sangat ramai, dan kedamaian yang dulunya saya rasakan telah menguap entah kemana. Saya merasa sangat sedih. Tapi barangkali itulah yang dinamakan kemajuan. Kita akhirnya harus menyerah pada perubahan zaman seperti ini. Dalam mobil pulang menuju hotel, saya merenung mencoba mengingat masa-masa itu. Saya menyadari betapa cepat waktu telah berlalu dan kita tidak akan mampu mengembalikan lagi apa yang telah terjadi. Saya tiba-tiba merasa tua. Dan merasakan betapa waktu adalah segalanya dan betapa berharga-nya sang waktu itu !
Sayapun jadi ingat sebuah kalimat yang berbunyi – “Menyemai satu detik – Menuai satu hari” – yang saya rasakan sangat ampuh luar biasa. Saya mendapatkan-nya lebih dari 25 tahun yang lalu dari seorang mentor bisnis saya, yaitu Almarhum Bapak MS Kurnia – pendiri dari Hero Group. Awalnya sangat sulit bagi saya untuk memahami keampuhan kalimat diatas. Namun dalam penjelasan yang sangat sederhana, beliau mengatakan bahwa dalam satu hari kita diberi anugerah waktu 24 jam, dan tiap jam ada 60 menit.
Tiap menit ada 60 detik. Artinya ada 86.400 detik dalam satu hari. Percaya atau tidak kebanyakan waktu itu berlalu dan terbuang percuma saja. Namun dari sekian ribu detik yang melewati kehidupan kita dalam satu hari banyak pula keputusan penting yang terjadi dalam tiap detik itu, yang reaksi dan akibatnya menentukan bagaimana hari kita berakhir. Apakah hari kita akan berakhir memuaskan ? Atau sebaliknya ? Ataukah hari kita itu akan menuai sukses yang berlimpah ?
Kelihatannya sebuah perhitungan yang sangat rumit sekali – tetapi kenyataan-nya sangat sederhana dan manjur. Mari kita simulasi dengan sangat sederhana. Betapa sering kita membuat komentar, bahwa hari ini memakai baju atau sepatu yang salah, sehingga merusak suasana hari ini ? Atau kita mengeluh salah makan pagi hari sehingga perut kita sepanjang hari tidak keruan rasanya. Dan semuanya itu ditentutkan oleh satu detik yang kritis dimana kita menentukan pilihan yang seringkali berbuntut panjang.
Itulah arti sederhana dari kalimat : “Menyemai satu detik – Menuai satu hari” . Alias satu detik yang kritis dan sangat menentukan. Sayangnya hari kita itu mirip dengan air sungai yang mengalir terus menerus tanpa henti. Bukan seperti sebuah mesin pemutar kaset musik, yang bisa berhenti sejenak, atau kita mundurkan dan kita majukan. Waktu akan berjalan terus. Tidak peduli apa kondisi dan situasinya.
Kunci sukses banyak orang sebenarnya ditentukan oleh satu sebab yang sangat usang, yaitu manajemen waktu. Tak lebih dan tak kurang. Siapa yang mahir menguasai waktu, maka kunci sukses sudah dipastikan ada ditangan orang itu. Saya sendiri melihat bagaimana mentor saya, almarhum Bapak MS Kurnia memanfaatkan dan menggunakan waktu. Bagaimana ia terlatih membuat keputusan dalam waktu yang tepat, dan dengan efesiensi yang sangat akurat.
Pernah ia memberikan saya sebuah wejangan, bahwa kualitas seorang pemimpin juga seringkali ditentukan oleh kemahiran menguasai manajemen waktu ini. Pemimpin yang efektif dan irit memanfaatkan waktu dan membuat keputusan dengan tepat waktu seringkali disebut sebagai pemimpin yang tegas. Sebaliknya pemimpin yang “mencla-mencle” mengulur waktu dan tidak mau menggunakan waktu dengan secara efektif seringkali menjadi pemimpin yang sering mengubah keputusan dan tidak tegas.
Namun bukan berarti kita harus tergesa-gesa dan selalu dikejar waktu. Sehingga bertindak sangat sembrono. Pelaku bisnis yang sangat sukses justru terbalik, mereka memburu waktu dan punya intuisi selalu tepat waktu. Istilah dalam bahasa Inggris-nya “Perfect Timing”. Almarhum Bapak MS Kurnia menyebut orang-orang yang memiliki intuisi ini, sebagai orang-orang yang selalu beruntung. Karena definisi keberuntungan bagi beliau adalah berada ditempat yang tepat pada waktu yang tepat pula. Jadi boleh saja anda merasa bosan, karena sudah mendapat kuliah tentang manajemen waktu berkali-kali, padahal kunci sukses kehidupan ini semuanya berpusat pada satu topik saja – “Manajemen Waktu”
Mentor saya – Mpu Peniti mengatakan bahwa hanya waktu yang bisa mendisiplinkan kehidupan kita. Itu sebabnya dalam setiap agama semua ritual penting ditandai dengan waktu. Mengingatkan kita pada saat-saat penting seperti berdoa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melakukan berbagai kewajiban yang baik. Mulai dari ziarah hingga melakukan sedekah. Semua ditandai dengan waktu yang pas. Waktu pula yang membuat siklus didalam alam yang menentukan hidup kita. Kapan waktunya kita menyemai bibit. Dan kapan waktunya kita menuai panen. Semua ada waktunya.
Almarhum Bapak MS Kurnia – memberikan saya sebuah wejangan kunci – yaitu kita membuat sebuah sistim kehidupan yang disiplin dengan cara memanfaatkan waktu. Lewat kebiasaan-kebiasaan baik. Misalnya waktu untuk belajar, olahraga dan istirahat. Semua didesain secara irit dan efektif berdasarkan waktu. Menurut beliau, hanya orang yang bijak yang akan menggunakan waktu untuk mendisiplinkan diri dengan menciptakan serangkaian kebiasaan yang baik. Serta sebaliknya.
Almarhum Bapak MS Kurnia meninggal dalam usia relatif muda pada usia 58 tahun – dan salah satu wejangan-nya yang selalu saya ingat : “Satu harta yang tidak mungkin kita miliki adalah waktu. Dan karenanya apa-pun kekayaan yang kita miliki – sesungguhnya kita tetap miskin”



